Kolom NvO
Hallo!
Sekarang Pengalamanku punya teman baru, loh! Mereka bakal ngisi blog ini dengan pengalaman, tips, dan segala hal menarik yang berhubungan dengan Belanda.
Eng… ing… eng! Penasaran?
Mereka adalah penulis buku Negeri van Oranje yang ciamik itu!! Keren kan, kan, kan?
Tunggu! Jangan histeris dulu. Kenalan dulu baek-baek.
Yuk, yuk. Siapa aja, sih, mereka ini?
Rizki Pandu Permana
(Alumni Wageningen University dan nekad melanjutkan PhD di Utrecht University. Ordinary person who can transform into extraordinary creature in an unordinary world.)
Tinggal di Belanda selama lebih dari enam tahun banyak membuat perubahan nyata dalam hidupnya, mulai dari meningkatnya jejaring profesional dan sosial, kapasitas otak (yang sepertinya harus di-upgrade dengan prosesor terbaru), perubahan konsep tentang hidup yang menyenangkan (walaupun sedikit absurd) dan… kemampuan memasak. Ya, Belanda membuatnya tergila-gila dengan memasak, makanan, dapur dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Jangan sebut penambahan berat badan yang sangat significant selama kurun enam tahun tersebut. Harga tinggi dan terbatasnya makanan enak (yang murah) ternyata bisa membuat jiwa survival seseorang bertransformasi menjadi sebuah passion positif yang menggila.
Namun, jika ditanya hal apa yang ingin ia lakukan jika mendapat kesempatan untuk tinggal di Belanda lebih lama lagi? Belajar bahasa Belanda.
Untuk tulisan-tulisan lainnya bisa diakses di: http://www.aaqq.net
Wahyuningrat
(Alumni Utrecht University. Just another typical boring nerds who reads hundreds of news daily for a living.)
Sempat hidup di Belanda saat menimba ilmu Mensenrechten di Universitas Utrecht. Belanda baginya adalah daratan yang nyaman untuk bersekolah dan berpetualang. Senantiasa ada hal baru setiap harinya bagi pecinta patat met mayo dan maniak sepeda ini. Sekarang mantan jurnalis televisi ini bekerja sebagai konsultan komunikasi di salah satu kementerian negara, sembari tetap berjuang untuk mendapat kesempatan menghirup udara Eropa kembali.
Adept Widiarsa
(Alumni De Haagse Hogeschool. Humorous yet serious. Talkative yet aloof. Extravagant yet modest. Wicked yet adored. Carefree yet principled.)
Lahir di Sumatra, dan mengikuti garis tangannya dengan menghabiskan masa kanak-kanak menjadi makhluk nomaden mengikuti orangtuanya yang bukan pelaut dan menempati beberapa pulau besar di Indonesia. Namun ia akhirnya takluk dengan ketidakmerataan pembangunan dengan berdomisili di Jakarta dan berkarier di salah satu industri yang selalu kena imbas pertama kali bila krisis menerpa.
Meski garis tangannya pernah diramal tidak memungkinkannya meraih jenjang pendidikan yang tinggi namun ternyata nasib baik mampu membawanya menjajal kesempatan bersekolah di Belanda. Ia kini bercita-cita agar keturunannya kelak beruntung untuk mendapat kesempatan yang sama, kalau bisa hingga jenjang yang lebih tinggi. Amin. (ini biodata atau doa, sih?)
Nisa Riyadi
(Alumni Leiden University. Part time diplomat, full time dreamer.)
Lieve Nederland,
Tau nggak apa saja yang aku kangeni dari dirimu? Wah, banyak banget! Misalnya aja :
- Bangun pagi dan menemukan jendela kamarku berembun dan ranting-ranting pohon di luar jendela tertutup salju.
- Menyeruput koffie verkeerd di salah satu bangku kafe pinggir kanal Oude Rijn, sambil menikmati pemandangan orang lalu-lalang.
- Aroma stroopwaffel dan harum gorengan kibbeling saat melintasi pasar tiap hari Rabu.
- Mengendarai sepeda dengan nyaman di jalur khusus sepeda menuju kampus Universiteit Leiden.
- Bunga-bunga pink yang berguguran sepanjang jalan menuju apartemenku tiap musim semi, jadi serasa VIP yang digelar karpet pink oleh alam semesta!
Walaupun kini aku bertugas di Mexico, negara seribu Tequila, bukan berarti aku telah pindah ke lain hati! Karena dalam lubuk hati ini akan selalu tersimpan rindu mendalam kepadamu.
Liefs,
Nisa Riyadi
Naahh, seru, kan? Makanya, langsung aja meluncur ke beranda Pengalamanku. Dan nikmati kisah-kisah mereka di sana!
Silakan baca tulisan para NvO-ers ini:








