Amsterdam memang punya berjuta alasan untuk dicinta. Ibukota Kerajaan Belanda yang bentuk aslinya terlihat seperti cincin semi-sirkuler dengan persilangan yang indah antarkanal di lebih dari 400 jembatan ini ternyata telah merebut hati turis asing dunia. Amsterdam tidak akan pernah luput menjadi tempat persinggahan mereka yang datang ke Eropa.
Kenangan Amsterdam
Jutaan kelibat memori di Amsterdam yang dapat ditangkap oleh indera para turis, yang kemudian terpatri dalam otak mereka. Ada yang mengungkapkan bahwa mereka tidak akan pernah lupa akan kanalnya yang indah, museumnya yang bernilai seni tinggi, bakaran marijuana yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya di negara asalnya, atau pemandangan yang aduhai di daerah lampu merahnya (red light district). Hal tersebut mungkin sudah biasa menghembus telinga kita, namun ada satu hal yang ternyata juga kenangan istimewa bagi para turis tersebut - kenangan indera pengecap akan cita rasa masakan Indonesia yang tiada tandingnya.
James Martin, menulis dalam artikelnya Europe for Visitors: Amsterdam Essentials-Travel Information, untuk salah satu situs informatif internasional, bahwa para turis yang berkunjung ke Amsterdam ‘harus’ mencoba Rijsttafel Indonesia, hasil dari eksploitasi kolonial Belanda.
Apa sebenarnya Rijsttafel itu?
Rijsttafel adalah satu set menu lengkap dimulai dari sup atau soto dengan kerupuk dan sambal, sebagai pembuka, lalu setelah itu terhidang nasi, bisa itu nasi goreng, putih atau kuning, dikombinasikan dengan daging sapi, ikan, ayam, sayur, babi, acar, telur, kacang, serundeng, kecap dan saus, dan ditutup dengan penutup khas Indonesia, seperti es cendol, es puter, kue lapis, pisang goreng, es buah segar atau lainnya.
Pendeknya, Rijsttafel adalah Bahasa Belanda, yang bisa diartikan secara harafiah dalam Bahasa Indonesia sebagai hidangan meja, atau meminjam istilah yang dulu sempat terkenal di Indonesia, ‘Makan Besar’.
Rijsttafel Dalam Sejarah
Rijsttafel kini menjamur dalam menu restoran-restoran Indonesia dan Cina di Belanda. Lewat wawancara dengan Ibu Sri, salah satu pengelola Restoran Indonesia di Amsterdam, didapat informasi bahwa memang Rijsttafel berkembang pada zaman kolonial Belanda. Kisahnya, dahulu, pada abad ke-18 dan 19, saat makan, orang Belanda ingin beramai-ramai; semuanya harus lengkap langsung tersedia di meja. Banyak orang, banyak lauk dan banyak pauk juga.
Ini sudah menjadi kebiasaan. Setelah perang usai banyak imigran dari Indonesia yang menetap di Belanda melihat peluang bisnis dari kebiasaan masyarakat Belanda dalam cara makan ini. Lalu timbulah banyak restoran Indonesia yang memiliki menu rijsttafel.
Rijsttafel, Kebanggaan Restoran Indonesia
Masing-masing restoran memang mempunyai kombinasi yang berbeda-beda. Tetapi biasanya makanan yang dihidangkan punya beragam rasa, seperti manis, asin, asam dan pedas. Alasannya, kalai dahulu alasaanya seperti yang diungkapkan di atas, karena budaya makan masyarakat Belanda. Namun kini, banyak restoran punya alasan lain. Selain alasan finansial, karena memberi keuntungan yang besar, juga karena masakan Indonesia memang kaya rasa. Rijsttafel adalah cerminan untuk dunia tentang kekayaan masakan Indonesia yang tak terkalahkan itu.
Karena rijsttafel menawarkan banyak pilihan makanan, maka harganya sedikit lebih tinggi dari hidangan pada umumnya. Di Amsterdam, kisarannya € 18-50 euro atau sekitar Rp.190,000-550,000. Memang tidak bisa dibilang murah. Tetapi para turis dan banyak orang Belanda tetap memilih untuk memesan menu rijsttafel. Mereka berpendapat bahwa menikmati makanan dalam menu rijsttafel dengan minuman teh asli Indonesia, atau bir ala Belanda, seperti menikmati seni lewat indera pengecap, pendegar, pencium dan penglihatan.
Bermacam-macam hidangan dari soto ayam,sampai rendang, cabe buncis, sayur lodeh, dan lainnya sebagai hidangan utama dan ditutup dengan pisang goreng atau es cendol. Semua itu disajikan dengan sangat cantik oleh banyak restoran tersebut di atas piring-piring dengan bentuk beragam dan hiasan segar warna-warni. Namanya yang beragam juga menggelitik telinga mereka, seperti contohnya, Rijsttafel Setan (karena hampir semua hidangannya sangat pedas), atau Indonesian Music Rijsttafel (karena dekorasi hidangannya seperti tangga lagu, dengan not-not dari terung dan buah zaitun), atau Wadjan Koening Rijsttafel (karena semua makanan yang disajikan pake kunyit dan berwarna kuning).
Daftar Restoran Indonesia di Belanda
Di bawah ini ada daftar sejumlah Restoran Indonesia di Amsterdam yang sering dikunjungi turis UNTUK Rijsttafel-nya dan punya rating tinggi dalam beberapa situs internet yang menyediakan informasi untuk para turis yang ingin berkunjung ke Belanda:
1. Srikandi Indonesian Restaurant :€20-30
2. Sarang Mas Indonesian Restaurant :€15-25
3. Puspita Indonesian Restaurant :€15-25
4. Purimas Indonesian Restaurant :€18-38
5. Kantjil en de Tijger Restaurant :€35 ++
6. Indrapura Indonesian Restaurant :€ 28-48
7. Selecta Indonesian Restaurant :€ 20-30
8. Bojo Indonesian Restaurant :€15-25
9. Sama Sebo Restaurant :€27 ++
10. Aneka Rasa Indonesian Restaurant :€ 20-30
(Sumber: www.iExplore.com; www.igougo.com; www.wordtravels.com; http://travel.yahoo.com; www.restaurants.com)
Penutup
Rijsttafel memang komplit dalam segala segi. Tidak heran, pengalaman mencoba masakan Indonesia lewat Rijsttafel-nya adalah pengalaman tak terlupakan bagi banyak turis. Hasilnya, banyak turis asing yang lebih mengenal Indonesia dan tertarik untuk mengetahui segi lain, di samping politik, ekonomi, bencana, dan lainnya yang kerap kali mendera negri tercinta. Di Belanda, Indonesia dikenal dunia lewat rasanya.
(Nama dan alamat penulis ada pada redaksi)








on May 19th, 2010 at 1:33 pm
Rijsttafel, saya ingat makanan itu. satu set sekitar 20an euro, dibeli di rumah makan kediri amsterdam
kami makan nasi paket itu sewakty akan mengakhiri kuliah di KIT untuk buka puasa, hi hik sedih. Seumur umur di belanda cuma sekali makan lengkap itu bareng teman teman.
Trims for Sekplin yang telah traktir itu hari, juga Firman.
on May 23rd, 2010 at 9:48 am
Bicara makanan, tentunya menu negeri sendiri akan lebih membangkitkan selera, apalagi jika berada di negeri jauh. Tulisan yang menjadi daftar alamat restoran Indonesia di Belanda ini akan banyak membantu bagi mereka yang baru datang di Belanda.
on May 28th, 2010 at 9:25 am
Nggak tergantung siapa yang merasakannya juga kali ya????
on May 28th, 2010 at 12:51 pm
Benar, makanan memang menjadi salah satu jejak kebudayaan Indonesia di Belanda. Di Belanda, mencari makanan Indonesia relatif lebih mudah daripada di negara Eropa lainnya. Selain itu, saya juga mendapatkan bahwa banyak sekali data/informasi sejarah tentang Indonesia yang bisa ditemukan di Belanda. Coba saja cari di perpustakaan kampus-kampus di Belanda. Di Leiden, misalnya, ada KITLV yang secara menampung cukup banyak referensi tentang Indonesia.
Sayang saya tak punya kesempatan untuk menjelajahi semuanya. Semoga ada kesempatan di lain waktu.
on May 31st, 2010 at 3:37 pm
Rasa memang tak dapat dibohongi……
on Jun 7th, 2010 at 2:53 pm
[...] untuk penulis cerita Rijsttafel : Indonesia dikenal di Belanda , si kamu yang tidak mau disebarluaskan namanya ini memenangkan hadiah bulan Mei! Tim Pengalamanku [...]