Pengalamanku Rotating Header Image

Seleraku…Tetap Selera Indonesia

Pepatah “Think globally, act locally” sepertinya cocok sekali dengan saya. Meskipun katanya sudah “go international” dalam hal pendidikan, tapi selera saya tetap saja selera lokal alias tidak nyaman perut kalau belum makan nasi. Hahaha.

Dua hari pertama tiba di Groningen, saya hanya makan roti saja karena belum punya beras dan penanak nasi. Duh rasanya perut ini tidak nyaman sama sekali, lapar terus bawaannya tapi selera makan langsung turun kalau lihat roti.” Alamak! Roti lagi roti lagi” gumam saya dalam hati. Di pelupuk mata terbayanglah makanan-makanan yg biasa saya sajikan buat suami dan anak tercinta. Duh… terpaksa mengganjal rasa lapar dengan minum susu.

Bolehlah saya ini dianggap ndeso alias kampungan. Tapi memang saya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa saya tidak nyaman mengkonsumsi makanan ala Eropa seperti sandwich, croissant, spaghetti maupun aneka salad. Jadi betapa bahagianya hati ketika senior di fakultas saya menawarkan makan nasi di kamarnya. Aha! tawaran yang tidak akan ditolak.

Mengetahui selera saya yang tidak bisa lepas dari makanan Indonesia, senior saya memperkenalkan saya pada toko Orientals dan toko Melati yang menjual rempah-rempah dari Indonesia maupun Cina di Groningen. Cukup banyak bumbu-bumbu asli Indonesia bisa ditemukan di toko Orientals maupun toko Melati, baik yang segar maupun yang sudah dikeringkan. Sangking senangya langsung tersusun rencana di benak saya tentang akan masak apa selama di Groningen. Aha!

Menurut artikel “Food Guide” yang ditulis mbak Cinthya Sopa di milis PPI Groningen, selain kedua toko tersebut, bumbu-bumbu Indonesia juga bisa dibeli di vishmarkt, toko Weuro, de Kruidenier, Le Souk, dan Kruiden en Keramiek.

Begitu beragamnya rempah-rempah Indonesia disini sehingga ada pameo “Belanda itu gudangnya rempah-rempah dari Indonesia. Bila kamu tidak mendapatkan suatu jenis rempah Indonesia dijual di Belanda, berkemungkinan besar kamu tidak akan menemukannya di Negara Eropa lainnya.” Meskipun belum membuktikan sendiri, tapi saya cenderung percaya karena cukup mudahnya mendapatkan bumbu Indonesia di sini.

Untuk yang tidak suka memasak, bisa juga membeli makanan ala Indonesia di beberapa restoran di Belanda. Untuk kota Groningen, makanan Indonesia bisa dibeli di Toko Semarang, Warung Djawa dan restoran Pakarena. Meskipun akan sedikit lebih murah kalau masak sendiri, restoran tersebut bisa jadi alternatif gampang menikmati makanan Indonesia tanpa repot-repot di dapur.

Cara lain untuk mendapatkan beberapa makanan Indonesia dengan harga minim yakni bikin acara kumpul dan makan bareng mahasiswa Indonesia lainnya. Biasanya setiap mahasiswa sumbangan makanan buatan mereka. Dengan cara ini, kita cukup menyiapkan satu jenis makanan saja tapi nantinya bisa menikmati berbagai makanan lain.

Meskipun komunitas muslim merupakan golongan minoritas di Belanda, bukan berarti sulit mendapatkan daging halal di sini. Ada beberapa penjagalan hewan yang menjual aneka daging merah dan daging ayam halal seperti Nazar, Al-Fysal dan Islamitichse Slagerij Halal. Meskipun tidak selengkap Al-Fysal, saya biasa berbelanja di Nazar karena lebih dekat dengan tempat tinggal saya. Harga dagingnya relatif murah menurut ukuran Eropa.. tapi tetap saja terasa mahal kalau dikonversi ke Rupiah (Duh kebiasaan jelek yang sulit dilepaskan; membandingkan harga barang dengan harga di Indonesia)

Berbagai kebutuhan pokok bisa dibeli di swalayan-swalayan Albert Heijn, Aldi, Lidl, maupun Jumbo. Sembako tersedia lengkap di swalayan-swalayan tersebut. Tapi mesti pintar membandingkan harga dari setiap swalayan sehingga bisa dapat harga yang lebih murah. Setiap swalayan memberikan harga berbeda pada setiap produk sejenis yang dijual. Kalau saya pribadi, cenderung belanja pada produk bermerek “Euroshopper” karena harganya lebih murah. Maklum saja, anggaran mahasiswa cukup terbatas sementara keinginan sangat banyak. Jadinya menyiasati dengan berhemat di makanan. Hehehehe.

Di Groningen, maupun kota-kota lain di Belanda, juga ada restoran siap saji seperti McDonald’s dan KFC. Tapi harus diingat kalau restoran ini berbeda dengan yang ada di Indonesia. Jika di Indonesia kita bisa bebas mengambil saus tomat atau saus sambal, kalau disini untuk satu bungkus saus tomat ataupun mayonnaise kita mesti bayar 50 sen. Dan yang lebih menyedihkan rasa saus tomatnya sangat tidak enak, lagipula tidak ada saus sambal. Jadi jangan heran kalau mahasiswa Indonesia makan di restoran tersebut berbekal saus tomat atau saus sambal impor dari Indonesia. Hahaha.

Cerita Susanah Agus

VN:R_N [1.6.5_908]
Rating: 6.4/10 (5 votes cast)

8 Comments on “Seleraku…Tetap Selera Indonesia”

  1. #1 hermin
    on Mar 18th, 2010 at 3:39 pm

    hehehe..sama donk, aku juga ga bisa berpisah dengan yang namanya nasi. 1 hari aja ga makan nasi rasanya hidup kurang nikmat. begitu banyak makanan enak yang beraneka rasa tapi kenapa ya..kita bisa suka dgn nasi yang rasanya tawar???. btw, makasih atas info2 resto yang jual makanan indonesia di belanda. nambah wawasan nih.

  2. #2 roded
    on Mar 18th, 2010 at 4:52 pm

    gileee, baca ceritanya,
    gw jadi rindu berat ama Groningen.
    VHL, BB, Soerabajastraat…ik mis je

  3. #3 Ny. Aminah
    on Mar 24th, 2010 at 1:06 am

    Yang namanya selera ya tetap selera, dimuka bumi manapun lidah sulit untuk dipreteli, tetapi dengan kebiasaan ternyata lidahpun bisa ‘diganti’.

  4. #4 Harjito
    on Mar 30th, 2010 at 2:53 am

    Nasi yang “tawar” dengan bau khas memang kebutuhan pokok/primer orang Indonesia. Tetapi sawah sekarang ini sudah berevolusi (cepat atau lambat) menjadi pemukiman, entah apa yang bisa menghentikan.
    Moga-moga makanan Indonesia ‘go internasional’ termasuk nasi yang tak tergantikan. Orang yang nemukan nasi perlu diberi awards, siapa ya?

  5. #5 Harjito
    on Mar 30th, 2010 at 3:12 am

    koq gak bisa divote ya? I vote it, that’s good

  6. #6 rifki
    on Apr 1st, 2010 at 5:59 am

    memang, kalo belum makan nasi berarti kita itu masih belum makan.. meskipun habis roti satu bungkus… hehehe…

  7. #7 Asep Haris Mufadillah
    on Apr 13th, 2010 at 7:10 am

    dichtbiy in hart… eat culture shock. andai aja ada roti yang terbuat dari beras.he…he…. sukses !

  8. #8 Barron Saefudin
    on Nov 18th, 2010 at 7:32 am

    Saya tertarik dg Belanda, walaupun blm pernah ke Belanda, tp sy lulusa sastra Belanda di UI, o ya skrg sy punya usaha makanan seperti : saus sambal, tauco, abon ikan tuna, getas dan kerupuk kemplang Bangka dengan merek ” MENEER BARRON”, bgmn ya caranya agar produk makanan sy bisa dijual di Belanda. saya ucapkan terima kasih bila ada pihak yg membantu saya untuk merealisasikan rencana saya ini.
    ( Barron/ Jkt /081218885969.

Leave a Comment