Pengalamanku Rotating Header Image

Karnaval, pesta yang disukai atau dibenci

Di Belanda Selatan akhir pekan ini dilaksanakan pesta besar, orang di propinsi Brabant dan Limburg berdansa ria, mabuk-mabukan, minum bir sekian liter, mengenakan pakaian aneh dan lucu, yang pria berdandan seperti cewek, dan lain sebagainya. Cerita Philip Smet.

Namun, apa sih yang lucu dari peristiwa ini, demikian pertanyaan yang dilontarkan orang Belanda yang tinggal di Belanda Utara. Dan di Belanda Selatan pun ada juga orang yang benci karnaval. Kita jumpai Martijn Buurman yang tinggal di Helmond, kota kecil di propinsi Brabant.

Ia menunjuk tempat berlangsungnya karnaval di kotanya: “Di sinilah akan berlangsung pesta besar-besaran, inilah pusat rekreasi dengan berbagai kafe dan restoran. Di depannya dipasang tenda, orang minum dan berdansa ria di sana. Karnaval asli akan berlangsung di sana. Namun saya tidak ikut, saya benci karnaval.”

Berdandan aneh
Di tenda-tenda ini ratusan orang yang berpakaian ajaib bisa masuk, siang hari ada arak-arakan dengan mobil hias. Tua dan muda bisa menikmati berbagai pesta. Kalau malam mereka mengunjungi berbagai kafe dan bar secara bergilir, acapkali diiringi drumband.

Minum -minum dan berdansa, dan tentu saja musik karnaval. Martijn Buurman memiliki kenangan pahit ketika ia semasa mudanya dipaksa ibunya ikut di atas mobil yang dihias dan diarak di desanya Huissen. Ketika ia berusia 15-16 tahun Martijn mencoba ikut karnaval, memangnya apa sih yang menarik?

Kenangan yang tidak mengenakkan baginya: “Saya mengunjungi tenda biru yang besar sekali, saya heran dan merasa asing, lebih baik berdisko ketimbang ikut pesta karnaval dengan musik khasnya yang menjengkelkan dan pengunjungnya yang pada mabuk.”

Pesta rakyat
Karnaval adalah pesta rakyat di dua propinsi yang mayoritas penduduknya beragama katolik: Brabant dan Limburg. Karnaval adalah pesta sebelum masa puasa orang katolik, di mulai pada akhir pekan sampai hari Rabu, yang disebut “Rabu Abu”, awal mulainya puasa katolik. Jadi karnaval adalah pesta besar sebelum orang katolik harus berpuasa selama 40 hari menjelang hari Paskah.

Karnaval selalu diselenggarakan oleh berbagai perkumpulan khusus, misalnya di Helmond kita jumpai yang terbesar: De Keiebijters. Salah seorang yang sejak bertahun-tahun aktif dalam perkumpulan ini adalah Lex Coolen.

Ia menyesali sikap negatif Martijn Buurman: “Yang menarik dari karnaval bukan pestanya saja tapi juga persiapannya sejak 11 November lalu. Ada artis lucu-lucuan, bisa bikin orang melupakan kesibukan sehari-hari, semua jadi teman dan saudara, orang tidak canggung karena takut akan apa yang akan dikatakan oleh tetangga.”

Musik khas karnaval
Salah satu ciri karnaval adalah setiap kota dan desa di kedua propinsi ini punya lagu ‘kebangsaan’karnaval. Di kota Helmond dipilih satu dari 11 lagu, tahun ini dipilih ‘Unne kater is niet erg’, atau ‘habis mabuk terus hang over, gak masalah’.

Alternatif lain adalah tembang berjudul ‘Mi carnaval gu niemand op vakantie’ atau selama karnaval tidak ada orang yang berlibur, dibawakan oleh duo Jonny & Bonny. Memang mereka heran, ada juga orang yang berlibur mengungsi selama karnaval dari desa atau kotanya.

Hal ini diakui juga oleh biro perjalanan setempat: “Memang ada juga orang yang berlibur ke daerah yang hangat hawanya atau ke liburan salju, berski di daerah pegunungan Eropa Tengah. Mereka bilang tidak mau menikmati keramaian selama karnaval, juga sampah yang berserakan di tempat-tempat umum.”

Martijn Buurman, yang tidak suka karnaval ternyata tidak bisa berlibur, kedua puteranya mau menyaksikan karnaval, karena ini adalah bagian dari budaya Brabant. Ia kesal juga: “Lebih baik saya tutup pintu rumah, mendengarkan musik rock. Atau saya keluar mengunjungi konser. Kalau saya dengar musik karnaval, saya merasa jijik, saya namakan ini diare untuk telinga. Orang bilang … ah musik ini tidak didengar lagi setelah anda meneguk beberapa gelas bir. Sialnya, saya tidak minum alkohol.”

Lex Coolen yang senang karnaval tidak mengerti sikap menolak Martijn Buurman. Ia menambahkan: “Kami juga memutar musik drumband, misalnya dari Austria. Tidak benar kami selama 4 hari karnaval minum sampai mabuk saja, ini adalah tuduhan tak beralasan.”

VN:R_N [1.6.5_908]
Rating: 7.0/10 (4 votes cast)

4 Comments on “Karnaval, pesta yang disukai atau dibenci”

  1. #1 M. Jayadi D
    on Feb 13th, 2010 at 5:56 pm

    sama juga ya dengan di Indonesia….

  2. #2 hermin
    on Feb 15th, 2010 at 4:10 pm

    yah..manusia sukanya..cuma happy happy mulu..! Seneng2 boleh aja tp kayaknya terlalu berlebihan juga ga baik dan tak bermanfaat, yaaa..itukan cuma kesenangan sesaat. Kalau aku punya tetangga tetangga model gitu disini, huaaa..ga betah ma suasana hip hip hura hura.

  3. #3 rahmah
    on Feb 16th, 2010 at 11:49 am

    bedanya kalo diIndo, abis mabuk2an lalu rusuh… preman2 kampungnya.. kalo mereka lebih sopan dan bertanggung jawab…

  4. #4 Puspadewi Putri
    on Feb 21st, 2010 at 1:09 am

    Karnavalnya sih bagus, unik dan menyenangkan, tapi mabuk-mabukan dan apalagi jika berlebihan itulah yang mengerikan, menjengkelkan terutama bagi yang tidak suka minum. Budaya Barat memeng beda ……..

Leave a Comment