Pengalamanku Rotating Header Image

Culture Shock di Belanda? Ditraktir Tetep Saweran..

Sekolah di Belanda? Ah senangnya..Bakal tinggal di negara yang sama sekali lain dengan Indonesia. Pasti bakal banyak pelajaran yang didapat, pengalaman yang ditimba…hmm sumur kali ditimba. Nah, sebelum berangkat, saya sudah sedikit mempersiapkan diri dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya soal negeri kecil di tengah Eropa ini. Tapi ya tetap saja banyak hal-hal yang membuat saya ternganga ketika harus mengalaminya sendiri di sini. Yah kalau gak bikin shock, sepertinya gak bakal disebut culture shock yah.

Salah satu contoh yang paling saya ingat adalah ketika saya bercerita di kelas, di awal semester. Kuliah umumnya dimulai bulan September, dimana cuaca sudah mulai kurang bersahabat dengan manusia-manusia dari ‘pedalaman hutan tropis’ seperti saya. Sudah mulai dingin dan sering hujan. Nah saya bercerita, hari ini saya hampir bolos. Dosen saya tanya, kenapa? Sebagai catatan, saya ambil program master dan kuliahnya hanya tiga hari seminggu, tapi full teng. Jadi kalau sampai absen, harus banyak banget ngejar ketinggalan. Lalu saya bilang, “Habis saya lihat mendung dan mulai hujan, jadi saya males berangkat, enakan ngumpet di bawah selimut terus tidur lagi, ” Eh ndilalah satu kelas pada ketawa semua. Perasaan gak selucu itu ya dan saya gak bermaksud melucu juga. Lalu dosen saya bilang, “Wah kalo kamu mikirnya begitu, then I’ll only see you in April next year. Soalnya cuaca Belanda kan memang begitu sehari-harinya.” Setelah ber-oh panjang, saya terpekur dan cuma bisa meratapi nasib.

Ngomong-ngomong soal berangkat kuliah, saya pernah nih, tiba-tiba dibikinkan janji sama ketua program untuk ketemu salah seorang konselor. Saya bingung, wah kenapa ya, soalnya yang biasanya ketemu konselor ini mereka yang bermasalah. Perasaan saya baik-baik saja di kelas, paling tidak, diusahakan supaya gak ketahuanlah kalau bandel, hehehe. Tanpa tedeng aling-aling, si konselor langsung nembak, “Kamu lagi ada masalah apa, cerita aja.” Sebenarnya pengen jawab, gak punya duit nih mau beli tiket konser U2, tapi untuk sopannya saya jawab saya ga punya masalah apa-apa. Lalu dia lanjut, “Tapi kenapa kamu terlambat terus masuk kelas?” Ahahaha saya langsung ngakak. Karena memang betul saya sering banget terlambat masuk kelas, tapi yah paling 15 sampai 30 menit. Untuk ukuran saya yang hidup dan bernapaskan jam karet, itu sudah sebuah prestasi. Ternyata untuk mereka itu berarti ada sesuatu yang ‘sangat salah’ dengan hidup saya.

Wah benturan budaya nih, budaya jam karet berbenturan dengan budaya jam Swiss, hehehe. Orang di sini sangat menghargai waktu. Telat sedikit gak bisa ditoleransi, kalau perlu datang lebih awal. Bedanya dengan Indonesia, kita muncul saja orang harusnya sudah bersyukur, hahaha. Selain itu mereka juga sudah sangat terbiasa dengan cuaca yang berganti-ganti tak sesuai musim, kalau saya boleh bilang, mereka gak manja. Bedanya lagi dengan di Indonesia, kalau hujan deras sedikit, kita bisa datang terlambat, terus menyalahkan hujan. Dan kalau ada siswa yang dianggap bermasalah, mereka gak langsung marah-marah atau dihukum, tapi diajak bicara baik-baik dan dicari akar permasalahannya.

Culture shock yang lain adalah murid-murid dari Eropa dan Amerika sangat berani mengemukakan pendapat. Menurut saya sih suka berlebihan. Karena saking semangatnya, sering kali dosen belum selesai bicara, sudah dipotong. Atau tidak ditanya pendapatnya, tapi tetap nyerocos. Tapi dosen tidak keberatan, mereka malah senang, dengan begitu bisa saling berbagi pengetahuan, begitu katanya. Yah saya sebagai anak Indonesia dengan mental kepingin pulang cepet terus, yang ada tinggal misuh-misuh karena kalau ada diskusi kan jadi lama pulangnyaaaaa. Untungnya saya cepat belajar, karena kalau kamu diam saja menunggu ditanya, kamu gak akan dapat kesempatan. Jadi ya, saya memberanikan diri juga. Kita kan gak mau ketinggalan. Soalnya di sini pepatah diam berarti emas kadang gak berlaku. Banyak orang beranggapan, diam berarti bodoh.

Yang seru lagi kalau mereka udah berdiskusi atau berargumentasi sesama murid. Wah sampai teriak-teriak layaknya Steven Tyler vokalisnya Aerosmith. Tapi gak ada yang dibawa ke hati. Sehabis itu, baik lagi, ngebir bareng, makan bareng. Sampai sekarang saya belum nemu seninya nih. Orang sekitar saya masih sering bingung karena saya kalau mau tulis email aja lamanya setengah mati. Ya karena itu, muter-muter gak karuan, memformulasi kalimat supaya nyaman dan enak sampainya di hati si penerima.

Tingkah laku di kelas juga suka bikin bingung. Saya sih sudah tahu sebelumnya mereka di sini panggil dosen atau siapapun yang walau lebih tua dengan namanya. Itu saya harus membiasakan diri dulu. Selain itu, kalau di kelas, aduh, ada yang angkat kaki ke kursi, ke meja, ke lemari (eh itu berlebihan, hehehe). Ada yang ngomong ke dosen sambil makan permen karet. Ada yang duduk di meja. Untung gak sampe duduk di lantai. Pokoknya harus menciptakan gaya sendiri deh. Tapi yang bikin kagum, biarpun gayanya nyeleneh gitu, mereka semua serius belajarnya. Ngeliat nilai mereka juga seperti sebuah culture shock sendiri buat saya.

Hubungan pertemanan juga beda lagi. Kalau di Indonesia kita terbiasa menyebut semua orang yang kita kenal ( yah setidaknya sudah dua kali ketemu) sebagai teman, nah kalau di Belanda semua dipilah-pilah. Ada yang namanya klasgenoten (teman sekolah), huisgenoten (teman serumah), collega’s (teman kerja), kennis (kenalan), dan banyak lagilah macamnya. Baru di sini saya benar-benar menyadari bedanya. Selain itu kalau mau pergi bareng misalnya, gak bisa kayak di Indonesia, langsung menggabungkan diri begitu saja. Harus ijin dulu sama semua dan biasanya mereka juga enggan sih bergabung-gabung kalau gak kenal semua.

Soal traktir mentraktir juga lucu. Saya sempat benar-benar shock dalam arti sesungguhnya, karena gak bawa uang untuk bayar makan minum yang saya konsumsi. Jadi ceritanya saya diundang seorang kawan Belanda merayakan ulang tahunnya di sebuah bar. Saya pikir, wah banyak juga uangnya anak ini, yang diundang sekitar 20 orang. Nah, ketika mau pulang, salah seorang kawan mulai menagih saweran untuk bayar. What? Ternyata, diundang itu ya hanya diundang saja, untuk sama-sama merayakan, tapi bayarnya tetap masing-masing…Wakwawww.

Ah masih banyak lagi culture shock yang saya alami selama di sini. Tidak cuma hal-hal besar, saya juga harus menyesuaikan diri dengan banyak hal yang kelihatannya sepele. Kalau kalian gimana?

Cerita Anonim (nama ada pada redaksi)

VN:R_N [1.6.5_908]
Rating: 6.7/10 (16 votes cast)

10 Comments on “Culture Shock di Belanda? Ditraktir Tetep Saweran..”

  1. #1 M. Jayadi D
    on Feb 13th, 2010 at 5:43 pm

    Pengalaman memang benar-benar guru yang terbaik. Tapi setiap sesuatu hampir dapat dipastikan ada baik dan buruknya, positif dan negatifnya, senang dan susahnya……….

  2. #2 Rifki aris sandi
    on Feb 14th, 2010 at 1:12 pm

    itulah culture shock, seharusnya anda juga harus bisa meniru teman-teman anda yang dari amerika dan eropa yang antusias mengemukakan pendapatnya. begitu juga para dosen di indonesia juga perlu mencontoh cara mengajar dan memberi kebebasan mahasiswanya untuk berargumentasi mengemukakan pendapatnya. ini begitu bertentangan di indonesia terutama ditempatku kuliah. dosennya kalau ditentang ancamannya nilai, padahal argumen mahasiswanya tepat dan mungkin akan menemukan penilaian baru pada kasus tersebut. semoga indonesa dan pendidikannya juga akan berubah, amin.

  3. #3 hermin
    on Feb 15th, 2010 at 4:04 pm

    Ya.Tuhan..,tyt hidup di luar negeri gitu toh! Senangnya diriku jadi anak asia..Indonesia tulen. Tp budaya mereka mmg ada yg patut ditiru dan ga. Yah..kamu, namanya diundang..ya psti cm undang..ga da gratizan nya..hehehe

  4. #4 Rika Oktianti
    on Feb 16th, 2010 at 11:28 am

    saya jadi berpikir, untuk keseluruhan, lebih bagusan budaya yang mana ya? budaya Indonesia atau budaya Belanda.

  5. #5 Rifki
    on Feb 16th, 2010 at 1:32 pm

    dutch shock itu namanya….

  6. #6 M Mushthafa
    on Feb 16th, 2010 at 9:54 pm

    Berhadapan dengan suatu lingkungan budaya yang relatif baru, kematangan pribadi kita tertantang. Pada titik ini pula, kita juga harus memanfaatkannya sebagai momen untuk berefleksi dan mendefinikan ulang diri dan identitas kita, dengan segala proses kultural yang kita lewati, sekaligus mendialogkannya dengan lingkungan budaya baru yang kita temui.
    Cerita di atas paling tidak, langsung atau tidak, menggambarkan proses semacam ini.

  7. #7 Dicky Rinaldo
    on Feb 19th, 2010 at 9:46 am

    Semoga setelah kembali dari belanda anda bisa menyebarkan shock-shock yang anda deterima disana ke Indonesia

  8. #8 Puspadewi Putri
    on Feb 20th, 2010 at 7:03 am

    Belanda dan Indonesia memang beda, siapa bilang sama. Soal jam karet yang sudah menjadi “budaya” kita sudah kronis hingga gak bisa ditangkal dengan GDN, abis gimana ya, jangankan siswa/mahasiswa, wong guru/dosen aja sering terlambat. Itu sih ditempat saya di fakultas, di tempat lain sih saya rasa tidak ya, maskud saya tidak jauh beda……………..

  9. #9 Monica Pranoto
    on Feb 26th, 2010 at 2:38 pm

    hahhaa,, kurang lebih sama nih pengalamannya.. waktu saya baca artikel ini yg saya lakukan hanya manggut-manggut setuju sambil inget-inget pengalaman pribadi.. :D yang paling berasa buat saya sih suasana di kelas yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Seperti yang di bilang, di sini semua anak-anaknya aktif skali,, dan saya yang tidak terbiasa aktif dikelas, hanya bisa diam saja, sehingga banyak teman-teman saya di sini menganggap bahwa saya adalah anak yg pendiam, padahal sebenarnyaaaaaa hahahhahaa,, bagus klo diem dehh,, soalnya klo ga diem itu udah pasti bikin ulah. :D dan yang paling berasa dari awal tuh, becandaan orang-orang sini beda bgt sama org-org indo,, di sini tuhh cenderung jayus banget ke arahh gariing menn.. hahahaha,, :D oh, trus orang-orang sini pengetahuannya luas baangggeeett.. saya suka ga ngerty klo mereka udah masuk k bagian diskusi, dan itu juga makanya saja di bilang pendiem.. tp bukan krn diem,, tp karna.. “ya gue ga ngerti kalian ngomong apa..” hhahhahhaa.. yahh,, kira2 itu pengalaman saya :D

  10. #10 GloriaCrane33
    on Jul 7th, 2010 at 4:23 am

    This is well known that cash can make people free. But what to do if one does not have money? The one way only is to receive the personal loans or just auto loan.

Leave a Comment