Pengalamanku Rotating Header Image

Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda

Musim dingin di Belanda adalah pengalaman pertama saya melihat salju secara langsung. Menyaksikan butir-butir salju berjatuhan di balkon dan lanskap yang memutih sejauh mata memandang, semua sungguh tampak begitu indah.

Dua hari pertama salju turun, saya berusaha menikmati pemandangan di mana-mana. Saya ke Amsterdam, keliling pusat kota Utrecht, dan bersepeda di sekitar Zeist.
Akan tetapi, salju sebenarnya juga menyimpan cerita buruk. Dan saya juga telah benar-benar mengalaminya—di saat yang sungguh tepat!

Kejadian itu terjadi satu hari setelah badai salju yang melanda Belanda. Minggu, 20 Desember, salju turun sepanjang hari sehingga ketebalan salju di balkon saya hampir mencapai 30 cm! Menurut berita di situs Radio Nederland, Badai salju yang turun di beberapa negara Eropa ini memang telah memakan cukup banyak korban.

Saya juga menjadi korban keesokan harinya, saat saya hendak berangkat liburan ke Frankfurt dengan menggunakan bus Eurolines dari Utrecht CS. Menurut jadwal dan tiket yang saya pegang, bus Eurolines ke Frankfurt akan berangkat pukul 09.45 dari Utrecht CS. Jadi, pukul 8.30 saya sudah menuju Utrecht CS dan tiba di halte bus Eurolines di Jaarbeursplein pada pukul 09.00.

Halte bus Eurolines satu komplek dengan halte bus-bus antarkota lain di sisi barat Utrecht CS itu. Kabar buruknya: tak ada tempat duduk untuk orang-orang yang menunggu di ruang terbuka itu. Jalanan, pohon-pohon yang meranggas, sepeda yang diparkir cukup lama, semua memutih akibat badai salju kemarin. Putih dan tebal. Butir-butir salju di pepohonan itu sesekali tertiup angin dan jatuh ke bawah.

Saya berdiri saja di halte Eurolines bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Tas punggung saya tak dilepas. Tak lama setelah saya di situ, 4 mahasiswa Indonesia dari Deventer juga tiba di halte tersebut. Mereka mau berlibur ke Paris dan juga menggunakan Eurolines.

Waktu berjalan melambat saat menunggu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 pas. Saya menunggu dengan agak cemas, karena udara dingin di situ seperti sudah sulit ditahan. Yang paling terasa adalah kaki dan tangan—agak kaku, seperti mau membeku. Karena itu, sesekali saya pindah ke tempat lain yang tak bersalju, agar sepatu tak bersentuhan langsung dengan salju tebal itu. Tapi tetap saja. Karena dingin telah menyebar ke mana-mana.

Saat pukul sebelas tampak ada bus Eurolines masuk ke area Jaarbeurs, saya berharap ini adalah bus ke Jerman. Ternyata itu bus ke Paris.
Jelang pukul 12, saya sudah tak tahan dengan dingin dan penantian yang serba tak jelas itu. Saya heran, mengapa tak ada kabar dari Eurolines. Saya sudah mencoba menelepon nomor kantor Eurolines di Amsterdam, tapi saya harus antre panjang di jalur telepon itu sehingga saya akhiri saja. Akhirnya saya pun masuk ke komplek Utrecht CS. Mungkin bisa sedikit menghangatkan badan, pikir saya, dan sekalian untuk ke toilet.

Setelah dari toilet, saya duduk-duduk di ruang tunggu Utrecht CS, tepatnya di dekat Blue Screen, papan jadwal kereta. Sambil menikmati segelas kopi, saya kembali mencoba menghubungi kantor Eurolines. Akhirnya, meski berada di antrean ketujuh belas, saya menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan agak gelisah karena khawatir pulsa terkuras habis, akhirnya saya tersambung dengan operator.

Dan ini dia kabar buruknya: setelah diperiksa, si petugas mengabarkan bahwa bus Eurolines ke Frankfurt baru saja meninggalkan Utrecht! Saya pun menerangkan bahwa saya telah menunggu di halte selama hampir 3 jam, dan tak ada kabar apa pun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Utrecht CS karena sudah tak kuat menahan udara dingin. Si petugas menjelaskan bahwa hari itu semua jadwal bus menjadi kacau karena badai salju.

Tapi saya tetap saja heran: apa gunanya saya memberi nomor telepon saya di formulir pemesanan tiket jika dalam situasi darurat seperti ini saya sama sekali tak mendapat kabar! Memang sih, tiket Eurolines itu hitungannya bisa relatif murah. Tapi kan itu bukan alasan untuk membuat penumpang terlantar kedinginan. Satu-satunya jalan keluar adalah menunggu bus berikutnya. Dan itu, paling cepat, pukul tiga sore. Saya harus bersabar dan bertahan di tengah cuaca dingin.

Akhirnya, pukul empat kurang seperempat saya sudah berada di dalam bus Eurolines ke Frankfurt. Gara-gara badai salju, saya sudah terhukum kedinginan di Utrecht CS menunggu bus. Sungguh ini adalah pengalaman terburuk saya selama di Belanda.

M.Mushthafa
Zeist, 4 Januari 2010, 12.00

VN:D [1.6.5_908]
Rating: 8.8/10 (87 votes cast)

19 Comments on “Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda”

  1. #1 tinem
    on Jan 5th, 2010 at 2:12 pm

    memang terasa sekali pedihnya kedinginan..terutama bagi yang lemaknya kurang (kurus)..untuk melindungi diri dari hawa dingin..hiiiii

  2. #2 muzammal
    on Jan 5th, 2010 at 2:16 pm

    cari penghangat natural dong..hehe

  3. #3 Puspadewi Putri
    on Jan 5th, 2010 at 3:04 pm

    Saking indahnya pemandangan salju bagi yang pertama kali melihatnya mungkin dapat mengalahkan rasa dingin ya. Tapi percaya deh, kalau aku dapat melihat salju mungkin lebih baik aku nonton dari balik kaca tebal dengan selimut tebal, kacamata tebal, dan sebagainya dan sebagainya

  4. #4 Majdi
    on Jan 5th, 2010 at 3:19 pm

    duh… senengnya…
    meski itu pengalaman buruk…
    tapi ada nilai lebih yang lebih berharga…
    PENGALAMAN….
    Sukses dan semangat kak… doakan saya juga…

  5. #5 Bernando J. Sujibto
    on Jan 5th, 2010 at 7:56 pm

    Va yang baik, sejak awal saya lolos dalam beasiswa IIEF untuk short course ke Amerika, yang saya takutkan pertama kali adalah salju dan badai-badainya. Apalagi setelah membaca catatanmu kali ini, semua seolah membeku (dan syukur saya dapat jadwal summer session-nya).

    Saya saja juga ikut membeku ketika membaca kisah ini–membayangkan tubuhmu yang kurang pas untuk bertahan lama berdiri di tengah hempasan butir-butir salju di Ducth sana.

    Tulisan Va adalah catatan penting sebagai footnote perjalananmu. Namun jauh di balik itu, orang-orang yang belum memahami dan mengalami preistiwa seperti itu akan terbantukan dengan catatan ini. Saya merasa begitu bermanfaat catatan seperti ini.

    Terus tulis lebih banyak lagi Va. Jangan hanya terbatas kepada satu tema ya. Semuanya garap dalam multi perspektif kamu, mumpung jari jemarimu masih bisa bergerak dan memilih katakata….

    salam dari Jogja

    BJE

  6. #6 M. Faizi
    on Jan 7th, 2010 at 12:22 am

    Bagaimana cerita dengan naik busnya? fasiltas apa saja yang didapat?
    Euroline pakai berapa kursi (seat)?
    Apakah kasus keterlambatan ini merupakan kejadian insidental atau kerap terjadi pada managemen Eurolines?

  7. #7 busri thaha
    on Jan 7th, 2010 at 10:16 am

    Alhamdulillah, meski menjadi pengalaman terburuk, masih beruntung tidak membeku saat menunggu kendaraan itu. Sukses selalu

  8. #8 fatursatu
    on Jan 7th, 2010 at 5:53 pm

    seperti kata pepatah “Pengalaman adalah enak dan gak enak” kata guru

  9. #9 syarif
    on Jan 9th, 2010 at 3:07 pm

    tak pernah kabayang jika badai salju terjadi di madura, mungkin bis akas dan pelitamas atau damri juga akan mengalami seperti Eurolines ato mungkin lebih parah.
    yang paling asyik kalo di madura ada hujan salju aja, jangan badai kebesaran, tak usah repot-repot buat bikin es strup.
    kalo di Indonesia bis Eurolines sekelas bisa apa ya? Akas, Pahala, Karina, Ato Kramat Jati ato Faizi Jaya :)

  10. #10 Harjito
    on Jan 10th, 2010 at 12:17 pm

    Adakalanya keindahan berbanding terbalik dengan jarak. Dari kejauhan salju tampak putih gemerlap memukau memendarkan cahaya matahari, tetapi apabila didekati dingin salju menusuk tulang belulang apalagi yang “kurus kering” seperti saya…:)
    Analogi dengan cerita perang selalu seru dan imajinatif, tetapi apabila kita dekat atau menjadi korban konflik perang, dunia jauh dari tentram, pilih mengungsi…

  11. #11 Harjito
    on Jan 12th, 2010 at 10:44 am

    nice story…

  12. #12 tary
    on Jan 12th, 2010 at 4:25 pm

    halo smua,

    sy br datang di utrecht 3jan, cari teman indonesia, minggu pertama struggle jg ngurus imigrasi etc, nyasar dr mulai cari gedung akomods, ngurus ke IND yg di di Rijswisk malah salah kereta kebw ke Den Haag, nyampe di Rijswisk nyasar 2jm muter2 kota kecil cari kantor IND. Jangan ditanya dingin-nya.

    aniwei..ada-kah teman indonesia yg bersedia berbagi. pls contact me: arfyan@gmail.com

  13. #13 hermin
    on Jan 13th, 2010 at 5:29 pm

    buat orang2 yang belum pernah ketemu salju dan selalu bermimpi indahnya salju..(seperti aku), pasti selalu membayangkan musim dingin bersalju..wah sepertinya keren banget penuh sukacita. padahal dibalik itu semua, buat orang2 yg sudah biasa dengan musim dingin salju sebenarnya menyusahkan..Mungkin kalo da ngrasain langsung, anggapan musim dingin itu indah dan romantis akan sirna,jika mendapat pengalaman kurang mengenakkan kayak bang musthafa..hehehe.
    ternyata yang terlihat indah tak selamanya menyenangkan..
    bersyukur dech Indonesia cuma 2 musim, jd aku ga akan ngalamin kedinginan kayak begituan hahaha!
    by the way, aku salut and kagum ma alat transportasi di eropa..wuih kok kayaknya canggih amat layanannya, sampe2 bisa di telpon segala..! maklum dikampung cuma ada angkot and minibus jadul..alias jaman dulu..Baheula..lah..

  14. #14 M. Jayadi D
    on Jan 15th, 2010 at 7:41 am

    Pengalaman, seburuk apapun tetaplah ia sebagai guru yang terbaik.

  15. #15 Ahmad Irfan AW
    on Jan 16th, 2010 at 5:00 pm

    walaupun suhu sekitar sangat dingin, suhu tubuh manusia akan selalu berada di sekitar 37° Celcius, hal ini karena adanya lemak yang berada di dalam tubuh kita, yang selalu menjaga kestabilah suhu tubuh agar darah tetap mengalir ke seluruh pembuluh darah… tapi jika harus 6 jam bertahan di tengah cuaca dingin saya rasa suhu tubuh pasti akan menurun, wajar jika kaki dan tangan terasa kaku. wah… benar-benar pengalaman buruk tapi nilainya tak terningga (~). sebaiknya selalu bawa minyak kayu putih, hangat alami. apakah di Zeist ada toko yang menjual? Oh… ya, saya jadi ingin tahu berat jenis salju. jika tebalnya sampai 300 mm apa tidak bahaya pada atap rumah ya? tanya Wikipedia+Google dulu ah… sukses buat kak Musthov!

  16. #16 M Khathibul Umam
    on Jan 16th, 2010 at 7:17 pm

    Di Indonesia sekarang juga sedang musim dingin. bukan turun salju, tetapi musim penghujan. saya juga memiliki pengalaman buruk dengan hujan. kemarin (15/01), sekitar 20 menit sebelum berangkat shalat jumat hujan turun tak disangka. saya kira ini tak masalah, toh saya akan pake mobil bersama kakak sepupu dan dua orang teman. ternyata mobil yang tadinya saya andalkan itu erroR. mobil itu tak bisa kami jalankan. kami coba menunggu hujan sedikit reda. karena payung cuma 1 sedangkan kami berempat jelas tidak bisa menerobos hujan yang cukup deras itu. sedangkan shalat jumat sudah tinggal beberapa menit lg akan dimulai. beberapa saat kemudian hujan reda, namun pada saat yang bersamaan iqamah sudah di kumandangkan. dengan perasaan kecewa kami berempat kembali ke rumah. mengganti shalat jumat dengan shalat dhuhur. padahal, saya sudah terlanjur sms bibi. memberi kabar kalau saya nanti akan mampir ke rumahnya untuk silaturrahim. selain itu saya juga berencana bertemu teman-teman di masjid. semua itu akhirnya musnah karena hujan. dari kejadian ini saya dapat mengambil hikmah. setiap perubahan cuaca semestinya kita mempersiapkan mental dan fisik akan pengalaman buruk yang mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran kita. karena dengan begitu pengalaman buruk itu tak terasa sangat buruk sekali. pengalaman bukan untuk disesalkan tapi sebagai pelajaran untuk menghadapi tantangan berikutnya…

  17. #17 Harjito
    on Jan 18th, 2010 at 2:10 am

    Adakalanya keindahan berbanding terbalik dengan jarak. Dari kejauhan salju tampak putih gemerlap memukau memendarkan cahaya matahari, tetapi semakin didekati dingin salju makin menusuk tulang belulang…:) Analogi dengan cerita perang selalu seru dan imajinatif, tetapi apabila kita berdekatan dengan konflik perang, mungkin lebih memilih mengungsi daripada jadi korban peluru nyasar! Yang menarik fungsi garam yang berguna mencairkan salju…

  18. #18 Hadi
    on Jan 18th, 2010 at 2:17 am

    Apakah ada kaitan/korelasi musim salju dengan pemanasan global? apakah lebih dingin daripada sebelumnya atau berkurang suhunya?…

  19. #19 Hamiddin
    on Jan 22nd, 2010 at 8:10 am

    Peristiwa fenomena alam saat ini memang di berbagai negera mengalaminya. Bumi semakin renta, urat-urat nadinya mulai keropos, sehingga bencana di sana sini. Sebagai manusia kita tinggal menafsiri, bencana atau berkah? dari peristiwa itu ada yang perlu kita pahami, rencana kadang tidak seperti yang diharapkan. Ambil hikmah aja gus, siapa tahu, dengan tertundanya berangkat tepat waktu, Tuhan ingin memberi tahu bahwa salju itu benar-benar DINGIN.
    Dinginnya salju mungkin bisa ditahan dan akan berakhir jika sampai waktunya, tapi dinginnya hati perlu waktu lama untuk mencairkannya.

Leave a Comment