Pengalamanku Rotating Header Image

Merayakan Hari Sinterklaas Sambil Belajar di Kelas

my sweet horse

Saya tidak terlalu antusias ketika supervisorku mengajak untuk bikin acara pada hari Sabtu tanggal 5 Desember. Waktu itu kami sedang mengikuti kelas Ilona (nama supervisorku) yang mengajar Arkeologi Asia di Universitas Leiden. Kelas ini tidak besar hanya diikuti oleh lima mahasiswa, dua asli Belanda, dua lainnya dari Indonesia, dan satu sisanya gadis Belgia. Saya suka kelas ini, setiap pertemuan selalu diisi dengan diskusi kecil yang sesekali diselingi canda tawa. Yah, sebagai mahasiswa yang datang terlambat seperti saya (datang di bulan Oktober) kelas Asia mampu membantu menumbuhkan rasa percaya diri yang sempat menghilang sesaat.

“Besok Sabtu kita bikin acara ya, kita bawa makanan yang manis-manis”, itu perkataan Ilona pada hari Rabu setelah kelas usai. “Kita rayakan hari Saint Nicholas ya”, katanya lagi. Saya hanya bengong mendengar nama itu disebut, ah perayaan apa lagi nih, makanan yang manis manis saya gak terlalu suka yang manis kataku dalam hati. Ilona melanjutkan ajakannya, “Asih kamu harus ikut ya”. Tanpa pikir panjang saya menjawab, “O ya..ya kedengarannya menarik, ya tentu aku akan ikut”. Sebenarnya saya masih belum paham benar dengan maksud ajakannya, ah saya nggak sampe hati untuk menolak ajakan dosen yang baik hati ini. “Ok, nanti kita saling komunikasi lewat email ya”, lanjut Ilona menutup pembicaraan. Sore itu kami berpisah, kembali ke rumah masing-masing.

Hari berganti, saya menanti kabar dari teman-teman tentang acara makan manis-manis, ya saya sebut saja demikian, karena sebenarnya sama sekali nggak tahu maksud dari acara itu. Ya saya akui memang katrok..ha..ha..ha..biasa masuk keluar hutan di Kalimantan, sekarang hidup di Belanda, di kota besar lagi. Ya, meskipun sebenarnya di sini harus mengayuh sepeda tiap hari, jauh berbeda dengan kehidupanku di Kalimantan yang tinggal injak gas dan ngeeeeeeng sampai deh ke tujuan. Hari Sabtu berlalu tanpa kabar, ya berarti nggak jadi deh acaranya. Hari berikutnya, saya kembali sibuk dengan aktivitas kuliah, pergi foto kopi, dan pinjam buku di perpustakaan.

Tibalah hari Rabu yang selalu ku tunggu, kelas Ilona. Saya sudah melupakan ajakannya minggu yang lalu. Sampai di depan kelas, bertemulah saya dengan temanku yang dari Belgia, dia bilang bahwa hari ini kita akan merayakan hari St Nicholas, masing-masing orang bawa makanannya apa saja yang penting manis untuk mengganti acara yang tidak jadi sabtu kemarin. Hah, saya terkejut….”Waduh aku nggak tahu nih, aku nggak bawa makanan”, kataku. Eh, temanku malah minta maaf karena nggak ngasih tau maklum dia memang tidak tahu emailku apalagi no hp-ku. Ya sudahlah, mau apalagi, ya siapa tahu yang lain sudah bawa, banyak lagi jadi cukup untuk berenam.

Akhirnya tiba saatnya masuk kelas, ternyata yang bawa makanan hanya Ilona dan Micha (temenku dari Belgia). Selamatlah aku batinku dalam hati, nggak sendirian. Banyak juga Ilona bawa makanan yang semuanya manis-manis, macam-macam lagi, ada permen coklat, spekulas, dan kue lainnya. “Ok” kata Ilona “Sebelum pelajaran mari kita rayakan hari Saint Nicholas dengan makan yang manis-manis. Saya bawa tiga kue amandel untuk tiga orang asing di kelas kita”, lanjut Ilona. “Asih kamu pilih dulu tiga kue ini ya, kamu anggota yang paling baru di sini”, Ilona menyilahkan untuk memilih tiga buah kue amandel yg memiliki bentuk berbeda yaitu kuda, wortel, dan Sinterklaas. Saat melihat Sinterklaas saya baru nyadar, ooooo ternyata sama dengan Saint Nicholas. Yah di Kalimantan kan taunya sinterklaas. “Ayo cepat kamu pilih satu,” perkataan Ilona menyentak lamunanku. Dan begitu melihat kuda yang lucu aku langsung bilang, “Saya pilih kuda saja ya”. Ilona menyahut, “Aha saya sudah perkirakan sebelumnya bahwa kamu akan milih kuda, saya tahu itu”. Aku hanya bisa menatap matanya dengan dahi mengkerut, kok bisa tahu ya?

sinterklaas di kelas

sinterklaas di kelas

Ah, hari yang menyenangkan dan belum pernah saya temui sebelumnya. Mana ada kuliah master kok di dahului dengan acara makan-makan, yang bawa dosennya lagi. Benar-benar tidak ada jarak di antara kami, layaknya teman saja, saling mengejek dan bercanda. Baru kali ini saya mendapat hadiah dari dosen, biasanya saya yang ngasih hadiah buat mereka, sebagai ucapan terima kasih sudah membuat pintar he..he..he..Ah seandainya tiap hari adalah hari Sinterklaas, banyak hadiah dan makanan manis-manis tentunya.

Cerita Sunarningsih Wasita (Asih)

VN:R_N [1.6.5_908]
Rating: 6.8/10 (12 votes cast)

10 Comments on “Merayakan Hari Sinterklaas Sambil Belajar di Kelas”

  1. #1 rifki
    on Dec 17th, 2009 at 4:19 am

    inilah yang disebut pengalaman yang tak akan terlupakan. perbedaan budaya dan tentu saja culture shock yang dialami asih adalah sebagian kecil saja.

  2. #2 michael
    on Dec 17th, 2009 at 5:35 am

    pengen rasanya studi di belanda,
    tetapi tidak punya biaya.
    bisa bantu nggak pak?
    saya berminat studi bidang filsafat disana..

  3. #3 Indah Wulanningsih
    on Dec 17th, 2009 at 12:50 pm

    Interesting. Jadi ingat guru bahasa Inggris di SMA. Mentraktir pisang goreng untuk satu kelas, makan bareng-bareng, dan belajar lagi. It’s wonderfull time.

  4. #4 Aminah, A.Ma.Pd.
    on Dec 18th, 2009 at 1:36 am

    Sebagai yang kecil kemungkinannya untuk kjuliah di Belanda, saya mah hanya bisa “iri” (dalam arti positif, lho) saja. Untuk menimba ilmu langsung ke Belanda memang saya tidak cita-citakan, karena takut hanya mimpi yang tak pernh akan terwujud, tetapi untuk mencari pengalaman ke Belanda sangat mungkin, minimal melalui tulisan teman-teman di ruang ini.

  5. #5 EMD
    on Dec 18th, 2009 at 3:29 pm

    waww…cukup mnarik skali…jadi iri dan pngen ikutan…

  6. #6 nia
    on Dec 20th, 2009 at 7:12 am

    wehehehhee…lucu mbak..
    mau juga dong dikirimi makanan yang manis-manis itu di banjarbaru,,,,,

  7. #7 Fathur Rosyid
    on Dec 22nd, 2009 at 3:37 am

    Keagungan Dan keindahan Tuhan dirangkai dalam satu kelas, ragam warna kulit, budaya, bahasa, bahkan agama. Asih menjadi salah satu orang yang beruntung menyatu dalam rangkaian itu. Apa yang terjadi dalam rangkaian itu merupakan cerminan bagi kita semua untuk saling CINTA DAMAI DALAM KASIH TUHAN

  8. #8 agung
    on Dec 22nd, 2009 at 8:34 am

    saya pernah training di wageningen 1.5 bulan, kayaknya hidup di dunia mimpi, setelah balik ke indonesia, seperti baru bangun dari mimpi…

  9. #9 Yanti tukang kerupuk
    on Dec 23rd, 2009 at 12:31 am

    whaa, inilah yang membedakan sistem pendidikan Indonesia dan negara maju. Namun yang menjadi pertanyaan, begitu banyak warga Indonesia yang belajar di luar negeri, tapi kok gak membawa nilai positip dan perubahan? Apakah memang bangsa Indonesia begitu sulit diarahkan untuk hal-hal yang sifatnya humanis?

  10. #10 eky
    on Dec 31st, 2009 at 3:15 am

    subhanalloh…cerita yg ringan tp mengadung hikmah
    perbedaar ras, agama tidak menjadi halangan untuk mewujudkan sesuatu yg lebih baik…

    kita bisa banyak belajar dari cerita ini…
    anatara dosen dan mahasiswa sangat akrab.
    bisa menciptakan suasana belajar yang enjoy…

    dengan suasana enjoy…kita bisa belajar lebih fokus…
    ikhlas dan nyaman…

Leave a Comment