Sebagai seorang penganut agama yang tidak merayakan Natal, saya menyamakan saja antara Santa Klaus dan Sinterklaas. Ternyata saat berada di Groningen saya baru mengetahui secara umum apa yang membedakannya. Untuk kalangan Eropa, masyarakat Kristiani lebih mengenal Sinterklaas dari pada Santa Klaus.
Ada legenda yang dipercayai masyarakat kristiani Eropa tentang asal mula Sinterklaas. Sinterklaas adalah seorang lelaki Katolik baik hati yang berasal dari Turki. Dia menolong kaum papa dengan memberikan uang dan makanan di sana meskipun Turki merupakan negara mayoritas muslim. Saat dia meninggal dunia, tulang belulangnya di bawah ke Spanyol. Oleh karena itu, setiap perayaan hari Sinterklaas, karnaval selalu dimulai dari Spanyol.
Perayaan Sinterklaas di Groningen
Saya melihat karnaval ini sebagai satu paket budaya yang menarik perhatian masyarakat internasional yang ada di Groningen.
Namun ternyata pada tanggal 5 Desember, tidak terlihat keriaan di tempat umum di Groningen. Saya hanya melihat beberapa Piet Hitam berkeliling di pusat kota serta membagikan hadiah permen dan cookies kepada anak-anak.
Ternyata penganut Kristiani merayakan hari Sinterklaas dengan berkumpul bersama keluarga. Perayaan ini ditujukan untuk menggembirakan anak-anak berusia dibawah 7 tahun selain mengajarkan mereka semangat berbagi kasih.
Orang tua biasanya mendatangkan Piet Hitam dan hadiah-hadiahnya ke rumah demi membahagiakan si buah hati sekaligus mengajarkan budi pekerti kepada si anak. Saat itu biasaya Piet Hitam akan berdialog dengan anak-anak, bertanya tentang segala aktivitas maupun informasi tentang anggota keluarga dan teman-teman si anak serta menceritakan kisah anak yang baik hati. Si anak diberi hadiah sekaligus diajarkan untuk berbagi hadiah dengan orang-orang yang menghadiri perayaan itu. Acara ini sangat membahagiakan dan tak terlupakan buat si anak karena Piet Hitam dan anggota keluarga lainnya saling berlomba membuat si anak puas dan gembira.
Dari perayaan kecil ini, saya jadi mendapat bukti mengapa anak-anak di Belanda dikatakan memiliki masa kecil paling membahagiakan dibanding negara Eropa lainnya.
Cerita Susanah Agus













on Dec 10th, 2009 at 1:01 am
Sinterclaas atu Santa Claus dari sisi pandang yang berbeda seperti inilah yang saya butuhkan informasinya. Artinya, kesan berjumpa Sinterclaas itu jelas berbeda antara mahasiswa yang beragama Kristiani, Islam, Hindu, Budha maupun agama lainnya. Saya berharap melalui ruangan ini akan mendapatkan kesan-kesan itu semuanya.
Untuk cerita Susanah yang panjang lebar dan mendetail memberikan gambaran yang cukup mendetail dan menarik.
on Dec 10th, 2009 at 8:42 am
Wow this beautiful.
on Dec 16th, 2009 at 1:49 pm
Saya yang juga bukan merayakan Hari Raya ini mendapat gambaran betapa kebaikan hari Sinterklas sangat membahagiakan anak-anak. Karena saya tinggal jauh dari perkotaan, jangankan disapa atau diberi senyum oleh Sinterklas, melihat saja pun saya belum pernah. karena tidak tahu bagaimana suasana anak-anak mengerumuni Sinterklas, jadi tulisan ini saya jadikan sebagai pengalaman itu.
Untuk Ranesi, kenapa judul bulan itu terlalu khusus? kalau bisa sih yang lebih umum, misalnya tentang perayaan Hari Besar Keagamaan di Belanda.
Terima kasih.
on Dec 16th, 2009 at 4:36 pm
Harus pintar memilah mana yang memang suatu keharusan atau hanya sekedar mencari pengalaman tapi bukan bersaksi.
on Dec 25th, 2009 at 3:53 am
Cerita Pengalaman Susanah Agus mengenai Perayaan Hari Sinterklaas Bagi Anak-anak cukup menarik sekaligus sebagai apresiasi terhadap keberagaman di tengah masyarakat yang multikultural. Perayaan Hari Sinterklaas yang identik dengan memberikan hadiah kepada anak-anak tentunya bagus untuk memotivasi anak-anak berbuat baik, yang kurang tepat apabila mengajarkan kepada anak-anak berbuat baik agar mendapatkan/mengejar hadiah. Hal menarik dari perayaan sinterklaas berupa anak diajarkan berbagi hadiah (share), yang berkembang menjadi tradisi saling menukar hadiah/kado di Hari Natal, bukan tukar menukar uang. Tentunya “tidak lucu” dan tidak ada seninya, apabila si Albert memberi uang 100 euro kepada Andrew, kemudian Andrew membalas memberi uang 100 euro kepada Albert. Anjuran saling memberi hadiah merupakan ajaran budi pekerti yang universal untuk merekatkan jejaring sosial. Di sisi lain, pemberian hadiah kadang menjadi perangkap misalnya Pengusaha A memberi hadiah kepada Pejabat B, kemudian di lain waktu si A meminta sesuatu kepada si B. B pun merasa tidak enak karena sudah “berutang” hadiah kepada A. Mungkin lebih baik saling memberi hadiah pada waktu yang bersamaan sehingga tidak ada utang-piutang hadiah.
Bagi umat kristiani yang hari ini 25-12-’09 merayakan Natal, saya mengucapkan Selamat Natal 2009. Damai di hati damai di bumi, semoga terwujud traktat perdamaian dalam kehidupan nyata (real life) yang sanggup menghentikan “deru” baku tembak mesin perang.
Terima kasih.
Salam dari Jogja
on Dec 30th, 2009 at 3:47 am
Cerita Pengalaman Susanah mengenai Perayaan Hari Sinterklaas Bagi Anak-anak cukup menarik sekaligus sebagai apresiasi terhadap keberagaman di tengah masyarakat yang multikultural. Perayaan Hari Sinterklaas yang identik dengan memberikan hadiah kepada anak-anak tentunya bagus untuk memotivasi anak-anak berbuat baik, yang kurang tepat apabila mengajarkan kepada anak-anak berbuat baik agar mendapatkan/mengejar hadiah. Hal menarik dari perayaan sinterklaas berupa anak diajarkan berbagi hadiah (share), yang berkembang menjadi tradisi saling menukar hadiah/kado di Hari Natal, bukan tukar menukar uang. Tentunya “tidak lucu” dan tidak ada seninya, apabila si Albert memberi uang 100 euro kepada Andrew, kemudian Andrew membalas memberi uang 100 euro kepada Albert. Anjuran saling memberi hadiah merupakan ajaran budi pekerti yang universal untuk merekatkan jejaring sosial. Bagi umat kristiani yang merayakan Natal, saya mengucapkan Selamat Natal 2009. Damai di hati damai di bumi, semoga terwujud traktat perdamaian dalam kehidupan nyata (real life) yang sanggup menghentikan “deru” baku tembak mesin perang. Harjito Sangaji, Yogyakarta
on Dec 30th, 2009 at 4:08 am
Cerita Pengalaman Susanah mengenai Perayaan Hari Sinterklaas Bagi Anak-anak cukup menarik sekaligus sebagai apresiasi terhadap keberagaman di tengah masyarakat yang multikultural. Perayaan Hari Sinterklaas yang identik dengan memberikan hadiah kepada anak-anak tentunya bagus untuk memotivasi anak-anak berbuat baik, yang kurang tepat apabila mengajarkan kepada anak-anak berbuat baik agar mendapatkan/mengejar hadiah. Hal khas dari perayaan sinterklaas berupa anak diajarkan berbagi hadiah , yang berkembang menjadi tradisi saling menukar hadiah di Hari Natal. Bagi umat kristiani yang merayakan Natal, saya mengucapkan Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010.
on Dec 31st, 2009 at 5:08 am
asslam..
seru ya….bisa dapat pengalamanya, bisa melihat secara langsung…
kita bisa ambil sisi baik dari peryaan itu..
dari manapun datangnya ambilah jika itu kebaikan….
semua agama mengajarkan kebaikan…tp hanya satu yang yang benar…
tetap semangat….
wasallam
on Jan 4th, 2010 at 9:12 am
sya sangat senang terhadap apa yang anda tulis … sedikit saya berpikr”___” andai sifat sinterklaus yang baik hati,senang berbagi itu tertular kepada seluruh insan di bumi…Mungkinkah itu terjadi???