Pengalamanku Rotating Header Image

Bersepeda di Belanda

Sungguh saya merasa sangat beruntung berkesempatan untuk bersepeda di negeri Kincir Angin ini. Tak seperti saat di Jogja, saya dan para pengguna sepeda yang lain di sini mendapatkan banyak keistimewaan dan kenyamanan dalam mengayuh kereta angin dan menyusuri berbagai sudut negeri Belanda. Ada jalur khusus sepeda lengkap dengan rambu-rambunya. Tempat parkir sepeda dapat ditemukan dengan mudah di mana-mana. Beberapa peta yang saya dapatkan, dari kampus dan dari pengelola apartemen, juga mencantumkan jalur khusus sepeda dengan tanda tertentu. Lebih dari itu, di jalanan, sepeda dianakemaskan oleh aturan lalu-lintas: di banyak tempat dengan tanda khusus, kendaraan bermotor wajib mendahulukan atau memberi kesempatan bagi pengguna sepeda untuk melintas.

Karena itulah, tak heran jika 85 persen orang Belanda memiliki paling tidak satu sepeda. Tiap tahun, 1,3 juta sepeda baru terjual di negeri yang juga terkenal dengan bunga tulip dan berpenduduk sekitar 16 juta orang ini. Setiap berangkat ke kampus di pagi hari dengan bersepeda, sepanjang jalan saya akan mengayuh bersama para pengguna sepeda yang lain. Ada yang sudah berusia cukup lanjut, dan bahkan ada juga yang tampak berusia masih setingkat anak Sekolah Dasar. Mereka mengayuh sepeda dengan cepat dan tangkas.

Kekaguman saya semakin bertambah saat menyadari bahwa ternyata sepeda di sini sangat fungsional. Sejauh saya berkeliling di sekitar kawasan kota Utrecht dan Zeist dalam hampir dua bulan ini, saya menemukan berbagai desain sepeda sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing. Tak hanya keranjang belanja di depan kemudi sepeda atau tempat duduk balita yang sempat saya lihat, ada juga semacam kereta kecil yang kadang disambungkan di bagian belakang sepeda, atau bahkan di depan. Kereta kecil di belakang sepeda kadang untuk bayi, lengkap dengan penutup di bagian atasnya, sehingga si bayi dapat dengan aman dan nyaman berbaring di sana. Saya juga pernah menjumpai kereta yang isinya seekor anjing duduk manis di dalamnya. Bisa Anda bayangkan?

Tak jarang, mereka yang hendak bepergian ke luar kota juga membawa sepeda lipat mereka. Jika tak punya sepeda lipat dan hanya punya sepeda biasa, sepeda diparkir di stasiun. Karena itu, di stasiun Utrecht, misalnya, saya melihat banyak sekali sepeda yang diparkir-pasti ribuan, atau mungkin puluhan ribu. Teman apartemen saya yang asli orang Belanda mengatakan bahwa dia cukup sering kesulitan menemukan tempat parkir untuk sepedanya di stasiun Utrecht.

Minat orang Belanda untuk bersepeda juga tergambar dari sebuah website bernama “Cycling in the Netherlands” yang dikelola oleh dua orang Belanda bernama Anja de Graaf dan Paul van Roekel yang mengaku sudah lebih 30 tahun bersepeda keliling Belanda dan dunia. Laman ini menyediakan banyak informasi penting seputar bersepeda. Saya senang dengan kenyataan bahwa ada orang yang mau berbagi informasi seperti ini, untuk hal yang, mungkin bagi beberapa orang, tampak sepele-padahal bisa memberi banyak manfaat dan bisa jadi inspiratif.

Meski begitu, satu hal yang cukup menjadi hambatan dalam bersepeda bagi saya yang berasal dari negeri tropis adalah soal cuaca. Di hari kedua saya di Belanda, saya diajak rekan saya yang baik, Mas Waldi, bersepeda dari apartemen saya di Warande, Zeist, ke kampus Uithof Utrecht University. Dengan menggunakan sepeda pinjaman, saya bersepeda bersama Mas Waldi. Saat itu menjelang pukul 10 pagi. Dengan mengenakan kaos, kemeja, dan switer, sepanjang perjalanan yang beberapa di antaranya melintasi kawasan sepi yang penuh dengan pepohonan besar, saya merasakan angin yang menerpa tubuh saya menelusup di antara 3 rangkap pakaian saya itu. Sungguh, angin dingin itu terasa menusuk. Walhasil, saya sering tercecer beberapa meter di belakang Mas Waldi.

Gara-gara cuaca, kecepatan rata-rata bersepeda saya yang saya ukur selama lebih 5 tahun bersepeda di Jogja, yakni sekitar 20km/jam, menjadi sedikit menurun. Karena itu, setelah saya punya sepeda sendiri, yang, sekali lagi, saya dapatkan atas kebaikan dan pertolongan Mas Waldi, saya pun membeli perangkat-perangkat penangkal dingin: sarung tangan, topi dan jaket penahan dingin yang berbahan parasut seperti jas hujan. Sekarang, setiap kali bersepeda, hampir dipastikan saya mengenakan semua senjata penahan dingin itu.

Saat ini, setelah ketakjuban saya dengan fakta-fakta mendasar tentang sepeda di Belanda terasa mulai berkurang, mungkin karena sudah agak terbiasa, tiba-tiba terbersit satu pertanyaan lain di benak saya. Jika kenyamanan bersepeda di sini dapat dirasakan oleh semua pengguna sepeda, termasuk saya yang nota bene seorang pendatang, pertanyaannya: bagaimana kenyamanan ini pada mulanya dibentuk? Apakah ini hasil dari suatu kebijakan yang tertata tentang sistem transportasi publik, atau semata tumbuh dari bawah, dari hobi orang-orang Belanda dalam bersepeda? Apakah ini juga didorong oleh semacam nilai kepedulian atau ramah lingkungan?

Pertanyaan saya ini muncul atas dasar sebuah kecemburuan, mungkin juga mimpi, bagaimana agar ada satu kota atau satu daerah saja di Indonesia yang orang-orangnya populer menggunakan sepeda. Dengan kata lain, ramah lingkungan. Saya jadi teringat sebuah artikel di National Geographic yang menyebutkan sekilas tentang sebuah kota di Jerman, Freiburg, yang sepertiga penduduknya menggunakan mode transportasi ramah lingkungan, tanpa bahan bakar minyak. Saya jadi teringat komunitas Bike-to-Work di Indonesia. Saya jadi teringat sepeda saya di rumah-siapa yang kini menggunakannya?

Tentu saja, sebagaimana setiap peradaban memiliki sisi kelamnya masing-masing, saya juga menemukan sisi gelap “peradaban sepeda” di sini, yakni: maling sepeda. Saya mendengar cerita tentang sepeda yang hilang. Saya juga diperingatkan untuk benar-benar menjaga sepeda saya, paling tidak dengan menguncinya dan mencari tempat yang terasa aman untuk diparkir. Beberapa kali saya mendapati sepeda yang “dimutilasi”: ban depan dan atau ban belakangnya hilang dicolong orang-pemandangan serupa saya temukan di kota Paris, tepatnya di dekat Louvre. Saya juga pernah mendengar langsung umpatan seorang gadis tetangga apartemen di pagi buta saat ia tak menemukan sepedanya di tempat parkir di halaman-mestinya dia menyimpan sepedanya di gudang.

Begitulah sekilas cerita sepeda di negeri Belanda. Terlepas dari sisi gelapnya ini, pengalaman bersepeda di Belanda buat saya telah cukup menghadirkan satu wujud lain dari pencapaian peradaban yang terasa menarik dan patut untuk digali, diamati, dan mungkin juga dijadikan teladan.

Zeist, 24/10/2009 11.10

Cerita: M Mushthafa

VN:F [1.6.5_908]
Rating: 8.7/10 (128 votes cast)

19 Comments on “Bersepeda di Belanda”

  1. #1 muzammal
    on Oct 28th, 2009 at 11:56 am

    trims atas link-nya..lumayan bisa ikut jalan-jalan di netherland meski hanya dalam imaji..siiiip

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  2. #2 tinem
    on Oct 28th, 2009 at 11:58 am

    tapi mana foto kamu mus? kan tambah keren kalo fotomu dipampangan di situ..

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  3. #3 Ibune Alfy
    on Oct 28th, 2009 at 3:42 pm

    Coba ditambah foto alam yg bnyk bunga tulipnya.. Wah, tmbh mantap pasti mas.. Knp ga dibuat buku mas? Aq suka bhsmu..

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  4. #4 Tintin Prihatiningrum
    on Oct 28th, 2009 at 4:42 pm

    pa’e enak sekali kau dapat bersepeda sambil ngosngosan menghirup udara segar (walaupun dalam musim ini mungkin bikin mimisan). kami di sini ngosngosan sambil menghirup asap knalpot pak. nikmatilah bersepeda dangan rambu, eh tapi aku kira sepeda berasuransi aman sentosa untuk dipakai, ternyata masih ada praktek mutilasi yang mengancam, wuaduh, beli gerendel yang banyak pak.

    kalau soal asal mula kenyamanan, mungkin belanda dan negara-negara di asia dengan cerdas memasukkan jalan sepeda dalam rencana tata kota mereka. maksudnya mereka memang punya rencana tata kota gitu pak. hehe hehe

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  5. #5 daman
    on Oct 29th, 2009 at 12:09 am

    tak pernah dibayangkan bersepeda di Netherlands… apa setiap gayuhannya berbeda dengan di Indonesia atau sebaliknya gayuhannya sama tapi angin yang berhembus beda… teruslah bersepeda pacu semangatmu seperti putaran roda yang kelihatan diam namun bergerak… ! God Luck..!

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  6. #6 Ahmad
    on Oct 29th, 2009 at 3:12 am

    Saya merasakan dingin itu menusuk, Gus, dalam bayangan. Dengan bersepeda, setiap orang akan menghasilkan panas dan melawan jahatnya dingin, bukan? He..he..

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  7. #7 taufan
    on Oct 29th, 2009 at 6:13 am

    mator tengkyu, mas.kapan2 kita keliling dunia dengan bersepeda ontel.
    agenda saya, saya juga akan mengajak teman2 di madura untuk kembali ke ontel. Motor No, Ontel Yes!

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  8. #8 abdul wahid hasan
    on Oct 29th, 2009 at 8:08 am

    sya jadi ingat spd saya di yogya, yang saya beli dari hasil resensi buku, yang saya pinjamkan ke teman, dan kemudian hilang entah kemana…jangan2 spd itu sudah di belanda. warnanya juga merah gus.

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  9. #9 Mr Big
    on Oct 29th, 2009 at 10:07 am

    “Saya juga pernah menjumpai kereta yang isinya seekor anjing duduk manis di dalamnya.” wah, ini yang benar-benar membuat saya tertarik ingin membeli sepeda. he ;D

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  10. #10 darmaningtyas
    on Oct 30th, 2009 at 1:01 am

    Terima kasih kiriman catatanmu Mus. Selamat ya dirimu bisa belajar ke negeri Belanda, jangan lupa lho kunjungi makam leluhurmu, van peursen, dia sempat memberikan kuliah langsung pada masaku. Lanjutkan sampai s3 biar bisa mengganti posisi van peursen memberikan kuliah filsafat kebudayaan yang bermutu. Aku tunggu catatan-catatan lain tentang transportasi dan pendidikan

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  11. #11 Ahmad Badrus Sholihin
    on Oct 30th, 2009 at 11:33 pm

    dunia ini memang sudah terlalu pengap dengan berbagai polusi. & bersepeda, seperti juga halnya berjalan kaki adalah salah satu kebiasaan hidup sehat yang murah meriah… bahkan di saat yang sama kita sedang “bersedekah” kepada alam.

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  12. #12 Adi Baskoro
    on Nov 2nd, 2009 at 8:19 am

    mantap bung catatannya dan ditunggu cerita lainnya.

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  13. #13 M Khathibul Umam
    on Nov 5th, 2009 at 7:38 am

    di jogja, saya sudah terbiasa bersepeda. dengan udara panas, penuh asap hitam, tak ada jalur khusus. bahkan kadang pengemudi mobil dan sepeda motor memaksa saya untuk selalu mengalah. seolah tak ada ruang bagi pengemudi sepeda. kami tersingkir dari ruas jalan. pengalaman ini mungkin tak akan saya dapatkan jika ke belanda nanti (berharap)… mungkinkah pengalaman indah itu akan terwujud?

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  14. #14 Matin
    on Nov 11th, 2009 at 8:44 am

    sebuah pengalaman yg menyenangkan apabila sya bsa k sna dan hidup dalam jangka waktu tertentu d sana.

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  15. #15 Rara
    on Nov 12th, 2009 at 1:28 pm

    Seru juga tuh Ra, bisa bersepeda sambil make swter.
    kaya’ aktor d flm2 aja..

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  16. #16 Majdi
    on Nov 13th, 2009 at 9:03 am

    wah…. boleh juga untuk berbisnis sepeda di belanda…
    menarik sekali pemandangan dan gak terbayang betapa bersihnya udara di sana? Bisakah kita menerapkan hal seperti itu di negeri kita Indonesia?

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  17. #17 Arna
    on Nov 13th, 2009 at 10:48 am

    waaah, jadi kangen bersepeda di Belanda lagi!!!

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  18. #18 nuzul
    on Nov 14th, 2009 at 3:58 pm

    salah satu solusi yang efektif untuk meminimalisasi global warming adalah dengan bersepeda …… kehidupan juga tidak bising …. jiwa dan raga bisa sehat ….. pokoknya alami …. pool …..

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
  19. #19 Kartika
    on Nov 16th, 2009 at 9:08 am

    wah saya pengen nih ke Belanda, bersepeda dan meninggalkan indonesia yg sarat dengan asapnya….ya good luck buat penulisnya.. di tunggu yaa… pengalaman selanjutnya….

    VA:R_N [1.6.5_908]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)

Leave a Comment