Pengalamanku Rotating Header Image

“Bikelag”, Groningen dan Aku

 

bersepeda di groningen

24 Agustus 2009 jam 11 CET aku menjejakkan kakiku di bumi Groningen. Kesan pertama yang tertangkap adalah kota ini begitu tenang dan teratur. Setiap pengendara tertib di jalan raya dan menghormati pejalan kaki yang menyeberang zebra cross.

Satu hal yang paling penting di Groningen, dan Belanda pada umumnya, adalah sepeda. Kendaraan satu ini sangat membantu kita menghemat waktu mobilisasi maupun uang transportasi. Sayangnya masalahku dengan sepeda adalah aku TIDAK mahir bersepeda.

Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak akan memanfaatkan sepeda. Tidak mahir bukan berarti tidak akan bersepeda, meskipun aku baru belajar bersepeda selama tiga hari sebelum keberangkatanku ke Belanda.

 

Awal mula bersepeda
Pengalaman bersepeda dimulai di hari kedua di Groningen. Ditemani oleh senior di program studiku dan sepeda pinjaman, aku bersepeda mengitari berbagai kawasan di Groningen. Jangan ditanya bagaimana takutnya aku mengayuh sepeda di keramaian Vishmarkt dan Centrum. Saking gugupnya aku sampai menabrak sepeda orang dua kali dan jatuh sendiri 1 kali. Belum lagi aku sering kehilangan jejak seniorku karena terlalu sering menuntun sepeda daripada menaikinya.

Tiap kali kami berhenti dan singgah di tempat tujuan, aku selalu merasa “bikelag“, istilah rekaanku untuk perasaan lelah dan kecemasan pasca bersepeda. Jantungku dag dig dug tak menentu tiap kali mulai mengayuh sepeda menuju tempat-tempat lainnya. Meskipun begitu, kami terus menyusuri berbagai tempat di Groningen hingga senja menjelang. Tiba di kamar adalah masa penenangan batin pasca bersepeda.

Sebelum Memiliki Sepeda

Berhubung aku belum memiliki sepeda, mobilitasku tergantung kepada bis. Aku berusaha mengenali beberapa wilayah dengan mengikuti jalur bis. Sayangnya, aku bukanlah tipe orang yang suka bepergian. Jadilah hanya beberapa wilayah saja yang kuketahui rutenya. Dan ini berakibat lumayan tidak menguntungkan buatku karena aku kesulitan mencari toko atau supermarket yang menjual makanan halal. Padahal, ada beberapa tempat yang menjual makanan halal. Lagipula, aku harus mengeluarkan uang ekstra untuk mobilitasku ini karena aku mesti berbelanja beberapa kali dalam seminggu.

Setelah Memiliki Sepeda
Sebulan setelah ketibaanku, aku memiliki sepeda. Kembali aku dihinggapi “bikelag” setiap kali kembali dari bersepeda. Hatiku komat-kamit berdo’a setiap kali aku mengayuh sepeda. Jatuh dari sepeda, menabrak sepeda lain, dan menyenggol bis telah kualami namun aku tetap berupaya memahirkan bersepeda.

Karena aku tahunya rute ke berbagai tempat dengan jalur bis, maka akupun bersepeda dengan mengikuti jalur tersebut selama dua minggu. Akibatnya, aku membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari waktu tempuh dengan bersepeda, dikarenakan aku menempuh jalur memutar. Beruntung seorang temanku menunjukkan rute tersingkat menuju pusat kota Groningen. Akhirnya aku “kembali ke jalan yang benar” alias menempuh rute singkat ke berbagai tempat melalui pusat kota.

Keuntungan yang kudapati dengan bersepeda adalah aku bisa menghemat waktu karena tidak perlu menunggu jadwal bis tiba sekaligus uang transportasi. Terlebih lagi, aku bisa mencari tahu berbagai pertokoan yang menjual aneka kebutuhan harianku meskipun hingga hari ini belum semua rute kuhapal.

Yang paling penting adalah perasaan “bikelag” itu mulai memudar dan aku bisa lebih menikmati bersepeda, meskipun kini aku dihadapkan pada tantangan baru: cuaca musim gugur dan tiupan angin yang tidak berkompromi dengan tubuh kurusku ini. Aku harus berhati-hati mengayuh sepeda kalau tidak ingin di”terbangkan” oleh angin yang berhembus kencang.

Cerita Susanah Agus

sarah dan sepeda

 

 
 
VN:R_N [1.6.5_908]
Rating: 7.1/10 (27 votes cast)

2 Comments on ““Bikelag”, Groningen dan Aku”

  1. #1 zac antonius efron
    on Oct 24th, 2009 at 9:38 am

    Seharusnya kamu jadi orang yang mandiri dong.Agar bisa begitu kamu harus menyesuaikan dengan lingkungan,dan pilih yang dianggap kamu paling baik.
    Semoga kamu bisa sukses yah.

  2. #2 Angga
    on Oct 28th, 2009 at 12:42 pm

    good bye bikelag

    dapat vocab baru neh mis

    ntar kalau udah sampe jambi

    kita sepeda bareng ya mis

    miss u

Leave a Comment