Pengalamanku Rotating Header Image

Dari Pinggiran Kota Kecil Dekat Utrecht

a-view-from-the-top-of-warande

a-view-from-the-top-of-warande

Sebelum tiba di Belanda, saya tidak tahu bahwa saya tidak akan tinggal di kota Utrecht. Maklum, saya memang masih belum mengerti peta lokasi dan detail tempat yang akan saya tinggali. Saya mendapat kepastian akomodasi saya tepat satu minggu sebelum keberangkatan saya. Karena mencari akomodasi di Belanda cukup sulit, maka saat penyedia akomodasi memberi penawaran kamar buat saya, saya tak berpikir panjang untuk menerimanya.

Warande, itu nama komplek dua bangunan berbentuk L yang terletak di pinggiran kota Zeist yang kini saya tinggali. Zeist adalah sebuah kotamadya yang berada di arah timur kota Utrecht. Karena berada di wilayah pinggiran, suasana Warande relatif sepi. Apalagi ia dikelilingi oleh rerimbunan pohon-pohon menjulang serupa cemara yang tingginya bisa melebihi kamar saya yang berada di lantai empat. Lebih sepekan tinggal di Warande, saya merasakan suasana yang sunyi. Jarang sekali ada “keramaian” di sekitar sini. Suara-suara kendaraan dari jalan utama yang berjarak sekitar 250 meter pun tidak terdengar cukup keras dari sini.

Jarak Warande dengan Kampus Uithof sekitar 5 kilometer. Jika menggunakan sepeda ontel, ini ditempuh sekitar 20 menit. Jika dengan bus, tentu bisa lebih cepat. Ada beberapa halte bus di sekitar Warande yang bisa mengantar saya ke kampus, pusat kota Utrecht, atau tempat yang lain.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, komplek pertokoan Vollenhove, yang oleh website SSH (pengelola komplek ini) disebut “big shopping center”, dapat dicapai dalam hitungan beberapa menit. Di sana ada beberapa supermarket, toko buah, toko pakaian, toko obat, dan sebagainya. Setelah beberapa kali ke komplek itu, saya jadi agak heran mengapa tempat itu mereka sebut “big”, karena bangunannya hanya seperti ruko biasa, dan para pengunjungnya pun tidaklah ramai—biasa-biasa saja.

Dari ketinggian lantai empat di kamar saya, setiap hari saya menikmati sajian ujung-ujung pohon yang menari diterpa angin musim gugur yang mulai tiba. Biasanya, di pagi hari, saat matahari mulai terbit, saya membuka pintu ke arah balkon agar udara segar masuk ke kamar. Kebetulan, kamar saya agak menghadap ke timur.
Pemandangan menarik di balkon pagi hari selalu saya dapatkan jika langit sedang tidak begitu mendung. Setiap pagi, saya dapat menyaksikan langit yang seperti dilukis oleh jejak asap pesawat terbang yang menuju atau lepas landas dari Bandara Schiphol, Amsterdam—bandara tersibuk kelima di Eropa. Garis-garis putih yang tampak lembut saling menyilang di angkasa, berlatar langit biru yang sebagian menyala merah keperakan. Sungguh, ini pemandangan indah.

Akan tetapi, saya tidak berani berlama-lama membuka pintu ke arah balkon itu. Apalagi duduk-duduk agak lama. Udara dingin sudah terasa sangat menusuk buat saya yang berasal dari negeri tropis dan baru pertama kali tinggal di negeri berempat musim seperti di sini. Jika sebelum tiba ke sini saya cukup terobsesi dengan balkon, membayangkan bisa duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan dari ketinggian, saya baru sadar bahwa itu tidak berlaku jika kita tidak cukup siap berhadapan satu lawan satu dengan udara dingin yang bisa mencapai 11 derajat celcius—atau bahkan lebih rendah!

Sejak sore kemarin, gerimis sesekali datang. Beberapa bagian di lantai balkon tampak tergenang air bersama dedaunan yang kecokelatan. Hingga siang ini, gerimis kadang masih turun. Saya di kamar saja, tak bisa ke mana-mana. Lagipula, semalaman saya mengerjakan tugas kuliah dan baru selesai pagi ini.

Gerimis mengolah kesunyian Warande mencipta suasana yang tampak absurd buat saya. Saya tak mencium bau tanah, seperti saat hujan pertama turun di rumah. Gerimis hanya menebalkan kesunyian—tak lebih. Saya tidak tahu, apakah orang-orang yang sudah cukup lama tinggal di komplek ini memang sudah terbiasa dengan suasana semacam ini. Atau, barangkali, saya saja yang merasakan kesunyian di Warande.

Saya tak mau berpikir terlalu lama tentang ini. Tapi, rasa gentar tiba-tiba tampak berkelebat mendatangi saya, saat ingat bahwa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Saya tidak punya cukup senjata untuk mengantisipasi serangan salju dan suhu di sekitar nol derajat—dan kesunyian yang akan menyertainya.

Dari pinggiran kota kecil dekat Utrecht di suatu siang yang dingin, sekali lagi saya tersadar bahwa saya kini tengah memulai satu perjalanan baru untuk rentang waktu 10 bulan ke depan. Perjalanan yang harus dilalui dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Saya datang ke sini bukan untuk berlibur. Saya ke sini untuk menimba ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan banyak hal lainnya. Saya telah menyimpan banyak harapan dan keinginan tepat saat saya meninggalkan kampung halaman jelang akhir Agustus kemarin. Dan saya butuh kesungguhan, optimisme, keteguhan, dan kekuatan untuk melaluinya dengan baik dan penuh makna. Saya berdoa untuk itu semua. Amien.

Zeist, 15/09/2009 - 14:20

Cerita M Mushthafa

VN:R_N [1.6.5_908]
Rating: 3.5/10 (2 votes cast)

16 Comments on “Dari Pinggiran Kota Kecil Dekat Utrecht”

  1. #1 Okti
    on Oct 8th, 2009 at 9:00 pm

    Ya..kira kira begitulah warande…pa mustofa menggambarkan warande dengan indahnya….kadang2 saya berpikir…jauh2 saya merantau dan terdampar di tengah hutan kecil di pinggiran kota….tidak seperti yg saya bayangkan sebelumnya…tapi it’s a nice place to stay. Feel like di ndeso….

  2. #2 Wahyudi Akmaliah
    on Oct 8th, 2009 at 10:54 pm

    Pengalaman yang sangat menarik Must. Tulisannya sangat menarik dan inspiratif. Memberikan satu catatan pengalaman dan harapan. Kapan yah saya bisa merasakan untuk jalan jalan ke kota kecil yang engkau ceritakan itu

  3. #3 M Faizi
    on Oct 9th, 2009 at 12:36 am

    sebuah pandangan mata anak dari negera beriklim tropis pada satu dari empat musim.
    cerita bingung-hilang arah-nya, kok, tidak diceritakan? He…he… Apa memang tidak pernah mengalami?

  4. #4 tintin prihatiningrum
    on Oct 9th, 2009 at 3:47 am

    kesunyian di warande, ketika membuka pintu apartemen dan mendapati tidak ada seorangpun di dalamnya yang dapat diajak berbagi dengan bahasa ibu tentang keluh setelah seharian berkutat di kampus. saat semakin malam, tugas-tugas makin menghimpit waktu tidur, dan lagi-lagi merindukan seorang teman tidur yang bisa diajak bicara dalam bahasa ibu, tapi yang terdengar hanya gerimis di musim yang katanya musim gugur.

  5. #5 Fathol Haliq
    on Oct 9th, 2009 at 5:24 pm

    sungguh asyik ceritamu. menikmati sebuah perjalanan dari annuqayah (madura) menuju kampus nan masyhur Utrecht (Belanda). Selamat menikmati segala perjalanan, meski berbeda takdir semoga nyampe pula di negara penjajah tersebut.
    Kata pak kuntowijoyo, banyak cerita/buku sejarah madura di belanda. bolehlah cerita beberapa buku tersebut. oce?
    Selamat dan semoga sukses!!!!!

  6. #6 A'ak Abdullah Al-Kudus
    on Oct 10th, 2009 at 7:52 pm

    adakah juga tersadar olehmu
    bahwa di bawah pondasi bangunan-bangunan di utrecht itu
    tertimbun nyawa ribuan nenek moyang bangsa Indonesia Mus…
    selamat belajar menjadi Indonesia di Belanda
    Salam Hangat

  7. #7 Ahmad Badrus Sholihin
    on Oct 12th, 2009 at 2:05 pm

    Inspiratif! Mengingatkan saya kepada beberapa bagian dalam Memoar Bung Hatta, saat beliau berkisah tentang pengalamannya selama belajar di negeri Belanda. Harapan saya (dan mungkin juga banyak anak negeri yang lain) sepulang dari menuntut ilmu dari negeri Belanda kelak Mustov berbagi ilmu dan melakukan perubahan nyata bagi bangsanya, sekecil apapun, seperti yang dilakukan oleh Bung Hatta dulu.

  8. #8 mohammad yazid
    on Oct 12th, 2009 at 4:57 pm

    wahahaha… seru2. tapi hati2, kalau di tipi itu saya di sana yang nonton penjahatnya banyak. itu yang film action. :D

    wah. ndak tau me-rating saya

  9. #9 mohammad yazid
    on Oct 12th, 2009 at 4:58 pm

    eh bisa ternyata

  10. #10 Mr Big Javelina
    on Oct 21st, 2009 at 7:14 pm

    Sungguh senang, saya juga bercita-cita ingin melihat senja dari sebuah bukit di luar negeri sana…

  11. #11 M Mushthafa
    on Oct 23rd, 2009 at 10:28 am

    Sayang sekali, tulisan saya yang ini tidak bisa dirating..

  12. #12 rifki
    on Oct 27th, 2009 at 5:29 am

    orang madura yah??? aku juga di madura dan kepingin banget kesana mas… doain yah..

  13. #13 rifki
    on Oct 27th, 2009 at 5:30 am

    itu mas aak yah.. hehehe

  14. #14 Inna Brata
    on Oct 28th, 2009 at 5:18 am

    Zeist itu terbayang oleh saya sebagai kota kecil yang bersih, tenang, tanpa kriminalitas, enak untuk belajar, enak untuk membaca, enak untuk menulis, enak untuk berpikir dan….enak untuk tidur…betul gak Mus…

    Senang sekali mendapat gambaran tentang kota kecil yang rasanya tentu sangat berbeda dengan apa yang ada dibumi kita ini

  15. #15 ahid arrusmani
    on Nov 8th, 2009 at 10:56 am

    waaaah……..sungguh sangat menarik sekali pngalaman anda,mohon diinformasikan caranya bisa kuliah beasiswa disana dong,pngn juga aku ikut menimba ilmu disan,mohon di email ke emailku ya sobat ahid.arrusmani@gmail.com

  16. #16 cuxx
    on Oct 4th, 2010 at 9:09 am

    persis seperti yang bapak dan ibu ceritakan tentang kota2 kecil di belanda…keinget saat pulang bertugas di salah satu perusahaan disana “DSM”, kalo mau pergi ke eropa..kunjungilah maastricht, indah sekali….

    nah, kalo bapak bisa tugas ke sana, minim aku bisa nikmati pendidikannya…btw, selamat yah sis atas kesempatan yang kamu jalani…study well for your beloved country..indonesia

Leave a Comment