Masak itu bukan nama tengah saya dan buat saya makanan itu cuma ada dua rasa: enak atau sangat enak. Saya baru belajar masak di Belanda gara-gara HARUS, kalau tidak saya bakal kelaparan atau tongpes karena makan diluar terus.
Awal-awal datang, lebih dari 4 tahun yang lalu, saya cuma masak yang super gampang: bawang putih pakai cabe pakai garam dan gula, dicampur sama berbagai jenis sayuran (saya vegetarian). Buat saya pada waktu itu uda bangga banget (sekarang masih bangga cuma berkurang sedikit), cerita-cerita ke mama, saya masak macam-macam disini, padahal mah…
Pepatah “Think globally, act locally” sepertinya cocok sekali dengan saya. Meskipun katanya sudah “go international” dalam hal pendidikan, tapi selera saya tetap saja selera lokal alias tidak nyaman perut kalau belum makan nasi. Hahaha.
Dua hari pertama tiba di Groningen, saya hanya makan roti saja karena belum punya beras dan penanak nasi. Duh rasanya perut ini tidak nyaman sama sekali, lapar terus bawaannya tapi selera makan langsung turun kalau lihat roti.” Alamak! Roti lagi roti lagi” gumam saya dalam hati. Di pelupuk mata terbayanglah makanan-makanan yg biasa saya sajikan buat suami dan anak tercinta. Duh… terpaksa mengganjal rasa lapar dengan minum susu.
Kalau cowok bayar! Begitu seloroh Rahmat Saleh. Serial video kamar mahasiswa Indonesia, memperlihatkan, kayak apa sih tempat tinggal para pelajar tersebut di negeri Belanda.
Sedot lagi..sedot lagi… Begitu keluh Dina Septiani kalau orang main ke kamarnya. Serial video kamar mahasiswa Indonesia, memperlihatkan, kayak apa sih tempat tinggal para pelajar tersebut di negeri Belanda.
Dengan posisi tertentu prestasi malah bisa maximal. Serial video kamar mahasiswa Indonesia, memperlihatkan, kayak apa sih tempat tinggal para pelajar tersebut di negeri Belanda.
Untuk bulan Februari, kurang banyak peminat rupanya. Tapi selamat untuk pengirim cerita Culture Shock di Belanda? Ditraktir Tetep Saweran.
Kamu memenangkan hadiah bulan Februari, sebuah Ipod Touch 8 Gb! Hadiah akan segera dikirim ke alamatmu.
Semoga gak bikin culture shock ya.
Nah yang kebagian hadiah bukan cuma yang punya cerita, tapi juga tiga pemilih beruntung yaitu : Monica Pranoto (punkz_grey@yahoo.fr), Dicky Rinaldo (indonesianpower@gmail.com) dan Rifky (kaka_rifky@yahoo.com). Yaaay…kalian bertiga mendapat USB sticks (penyimpan data portable) dari Radio Nederland Wereldomroep (masing-masing satu ya, hehehe).
Sekarang udah bulan Maret nih, temanya Makanan di Belanda. Hmmm biasanya banyak cerita nih soal mencari makanan di negara lain. Kita mau juga dong diceritain…
Selamat ya Hesti Suarti dengan cerita Salju Salju…kamu memenangkan hadiah bulan Januari, sebuah bingkai foto digital (Philips SPF 5008/10) ! Hadiah akan segera dikirim ke alamatmu.
Sebelumnya Tim Pengalamanku harus minta maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan pengumuman ini. Ada kesalahan teknis yang ternyata makan waktu lama untuk dibereskan. Malu banget nih kita. Semoga kawan sekalian tidak jadi ‘pundung’ dan tetap mengirim cerita ke blog Pengalamanku.
Nah yang kebagian hadiah bukan cuma Hesti, tapi juga tiga pemilih beruntung yaitu : M. Jayadi D, Damai Wardani dan Puspadewi Putri. Yaaay…kalian bertiga mendapat USB sticks (penyimpan data portable) dari Radio Nederland (masing-masing satu ya, hehehe). Mohon dikirim alamat lengkapnya ke email kami: pengalamanku@rnw.nl.
Sekarang udah bulan Maret nih, temanya Makanan di Belanda. Walaupun cenderung lebih gampang cari makanan berbau Indonesia di Belanda ketimbang di negara Eropa lain, tapi pasti ada perjuangan juga dong mendapatkannya? Bagi-bagi cerita dong, siapa tahu dapet ketoprak hadiahnya, hehe.
Sekolah di Belanda? Ah senangnya..Bakal tinggal di negara yang sama sekali lain dengan Indonesia. Pasti bakal banyak pelajaran yang didapat, pengalaman yang ditimba…hmm sumur kali ditimba. Nah, sebelum berangkat, saya sudah sedikit mempersiapkan diri dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya soal negeri kecil di tengah Eropa ini. Tapi ya tetap saja banyak hal-hal yang membuat saya ternganga ketika harus mengalaminya sendiri di sini. Yah kalau gak bikin shock, sepertinya gak bakal disebut culture shock yah.
Di Belanda Selatan akhir pekan ini dilaksanakan pesta besar, orang di propinsi Brabant dan Limburg berdansa ria, mabuk-mabukan, minum bir sekian liter, mengenakan pakaian aneh dan lucu, yang pria berdandan seperti cewek, dan lain sebagainya. Cerita Philip Smet.
Namun, apa sih yang lucu dari peristiwa ini, demikian pertanyaan yang dilontarkan orang Belanda yang tinggal di Belanda Utara. Dan di Belanda Selatan pun ada juga orang yang benci karnaval. Kita jumpai Martijn Buurman yang tinggal di Helmond, kota kecil di propinsi Brabant.
Tema Februari: Benturan Budaya / Culture Shock di Belanda
Sudah hampir memasuki bulan Februari, semoga kawan sekalian sudah semakin ‘kebal’ diterpa salju. Ada yang senang melihat salju turun, ada juga yang kesal karena kegiatan sehari-hari jadi terganggu. Senang rasanya melihat banyak kawan yang bersedia berbagi cerita di blog ini tentang pengalaman musim dingin di Belanda, yang tahun ini lebih ganas dari biasanya.
Nah, kawan semua sudah hampir setengah tahun tinggal di Belanda, tentu sudah lebih banyak yang diserap dan dialami. Pastinya ini juga menarik untuk diceritakan, hal-hal apa saja yang ditemui di Belanda, yang masih mengejutkan atau sulit diterima. Ini bisa berupa ungkapan, kebiasaan, peraturan, atau apa saja yang menimbulkan culture shock / benturan budaya selama hidup di Belanda.